Menu

More on this category »

Remaja Transman Bunuh Diri setelah Perawat Rumah Sakit Terus Memanggilnya "Perempuan"

Kyler Prescott, saat itu berusia 14 tahun ketika ia meninggal, dia sedang diliputi rasa cemas dan depresi ketika akhirnya ia melakukan percobaan bunuh diri pada Mei 2015.

Ilmuwan Inggris Berada di Gerbang Penemuan Obat untuk HIV

Seorang pria Inggris yang hidup dengan HIV bisa menjadi orang pertama yang sembuh dari penyakit setelah Ilmuwan mengungkapkan berada pada ambang penemuan terhadap obat HIV yang mampu menyembuhkan secara permanen..

Pimpinan Gerakan LGBT Tunisia Di Temukan Dua Kali Melakukan Percobaan Bunuh Diri

Tidak mudah untuk berjuang dengan membawa bendera pelangi, Ahmed Ben Amor adalah seorang pemimpin hak-hak LGBT di Tunisia ditemukan telah melakukan percobaan bunuh diri untuk kedua kalinya dalam seminggu.

Benarkah, Tersangka Aksi di Bastille Seorang Biseksual?

Ada yang unik dari beberapa temuan di Aksi yang terjadi di Nice, Prancis saat perayaan Bastille Day kemarin.

Terapi HIV Menjadi Pencegahan HIV Bahkan Ketika Tidak Menggunakan Kondom

Dalam sebuah studi terbesar saat ini dengan mengguanakan 40.000 responden penelitian, peneliti Eropa menyimpulkan bahwa memungkinan orang yang hidup dengan HIV positif dan melakukan ART (Antiretoviral Teraphy) berhasil me'minimal'kan dampak paparan HIV kepada pasangan seksualnya.

Thursday, 6 October 2016

Remaja Transman Bunuh Diri setelah Perawat Rumah Sakit Terus Memanggilnya "Perempuan"


Pride Indonesia - Seorang remaja transman bunuh diri setelah selalu diejek oleh karyawan rumah sakit yang terus menerus memanggilnya 'Seorang perempuan'.

Kyler Prescott, saat itu berusia 14 tahun ketika ia meninggal, dia sedang diliputi rasa cemas dan depresi ketika akhirnya ia melakukan percobaan bunuh diri pada Mei 2015.

Beberapa minggu sebelum kematiannya, remaja asal Southern California ini sedang dirawat di Rumah Sakit Anak Rady, di San Diego, di unit psikiatri remaja untuk menangani upaya bunuh dirinya selama kurang lebih 72 jam.

Tapi ketika dia ditahan di sana, karyawan rumah sakit terus menyatakan bahwa Kyler sebagai seorang gadis. Dari titik itu mulai muncul persoalan yang jauh lebih mendalam.

"Dia panik" kata ibunya Katherine Prescott. "Mereka justru membuatnya menjadi lebih buruk. Mereka benar-benar membuat dia makin trauma.

Minggu ini Prescott telah mengajukan gugatan perdata terhadap rumah sakit di Pengadilan Distrik AS di Southern California, dan mengklaim bahwa tenaga medis telah melanggar hukum federal dan negara bagian yang seharusnya melindungi setiap pasien terhadap diskriminasi selama Kyler dirawat.

Meskipun Prescott mengajukan tuntutan, namun dia tidak menyalahkan rumah sakit atas kematian anaknya, dia hanya ingin merasa bahwa setiap Rumah Sakit harus bertanggung jawab dan tentunya untuk 'memastikan bahwa tidak terjadi pada anak-anak lain.

'Ketika anak saya putus asa, saya percayakan pada Rumah Sakit Anak Rady dengan harapan akan menyelamatkan anak saya dan menyejahterakannya,". Kata Prescott pada Washington Post.

'Rumah sakit seharusnya menjadi tempat yang aman yang membantu orang-orang ketika mereka membutuhkan. Alih-alih pulih di rumah sakit, Kyler justru memburuk karena staf Rumah Sakit terus membuatnya makin trauma dengan berulang kali memperlakukan dia sebagai seorang gadis dan mengabaikan masalah kesehatannya secara serius.

"Ini menyakitkan untuk dapat mengungkapkan masalah ini, tapi saya ingin memastikan tidak ada orang tua lain atau anak yang lain harus melalui kasus semacam ini lagi."

Rumah Sakit Anak Rady di San Diego memiliki Klinik Kelamin untuk membantu orang-orang muda yang berurusan dengan dysphoria gender mereka.

Dalam sebuah pernyataan, rumah sakit mengatakan "Pihak Rumah Sakit memberikan perawatan untuk pasien dan keluarga yang Terbaik sebagai prioritas utama".

"Saat ini, pihak Manajemen Rumah Sakit Anak Rady memilih untuk tidak mengomentari masalah hukum tersebut, setiap tuduhan kesalahan dalam manajemen, termasuk masalah diskriminasi, akan diselidiki secara menyeluruh dan ditindaklanjuti,". Uangkap mereka.

Kyler menulis puisi dalam minggu-minggu menjelang kematiannya.

"Aku sudah mencari dia selama bertahun-tahun, tapi saya tampaknya tumbuh bersama dia dengan melewatinya setiap hari"

"Dia terjebak di dalam tubuh ini, dibungkus dalam rantai masyarakat yang menjaga dia dari keinginan untuk melarikan diri."

"Tapi suatu hari aku akan mematahkan rantai yang diberikan orang-orang. Suatu hari aku akan membebaskannya.

"Dan aku pada akhirnya akan melihat ke cermin. Dan melihat diri saya -

'Menjadi Lelaki yang sesungguhnya. "

Tuesday, 4 October 2016

Ilmuwan Inggris Berada di Gerbang Penemuan Obat untuk HIV


Pride Indonesia - Seorang pria Inggris yang hidup dengan HIV bisa menjadi orang pertama yang sembuh dari penyakit setelah Ilmuwan mengungkapkan berada pada ambang penemuan terhadap obat HIV yang mampu menyembuhkan secara permanen.

Para ilmuwan dan dokter dari lima universitas terkemuka di Inggris bekerja sama dalam merancang obatnya. 50 orang mengambil bagian dalam percobaan pengobatan dan satu pasien menunjukkan tanda-tanda bahwa ia mungkin sembuh.

Pada tes awal pasien yang berusia 44 tahun ini telah tidak lagi menemukan HIV dalam sistem tubuhnya. Namun, mereka yang bekerja pada program percobaan berharap untuk menunggu beberapa bulan lagi sebelum memastikan apakah pengobatan benar-benar telah bekerja sepenuhnya.

Terapi baru dikembangkan dengan cara berbeda dalam proses pengobatan HIV lainnya yang hanya mampu menekannya saja karena pada akhirnya mulai membuat pengobatan yang mampu menjadikan sel aktif yang terpapar sevagai target untuk menghancurkan HIV di setiap bagian tubuh.

Jika tes inimampu membuktikan, maka penelitian ini  akan menjadi sukses dan mampu menjadi obat yang permanen untuk HIV.

Seperti dilansir oleh The Times, seorang pasien, yang bekerja pada perawatan sosial di London, mengatakan: "Ini akan menjadi temuan besar jika obatnya telah berhasil. tes darah terakhir saya beberapa minggu yang lalu tidak ada virus yang terdeteksi."

"Namun, itu bisa saja terjadi karena terapi anti-retroviral, jadi kami harus menunggu untuk memastikan."

"Saya mengambil bagian dalam percobaan untuk dapat membantu orang lain serta diri sendiri. Ini akan menjadi prestasi besar, setelah bertahun-tahun, sesuatu yang ditemukan untuk menyembuhkan orang dari penyakit ini. Fakta bahwa saya adalah bagian dari percobaan itu yang akan menjadi luar biasa," tambahnya.

Para ilmuwan dan dokter telah mengakui bahwa hasil tes darah menunjukkan HIV tidak terdeteksi dari hasil tes awal. Ini bisa saja menjadi penyebab obat konvensional pasien telah mengambil alih sementara dan dapat membersihkan tubuh dari penyakit.

Pengobatan ini berbeda dari yang biasa digunakan dalam anti-retroviral therapy (Art) karena targetnya adalah sel aktif yang terinfeksi penyakit tersebut.

Mark Samuels, direktur National Institute for Health Research Office for Clinical Research Infra­structure, yang mendirikan konsorsium medis, mengatakan: "Ini adalah salah satu upaya serius pertama menciptakan obat untuk HIV yang secara permanen. Kami sedang menjajaki kemungkinan nyata menyembuhkan HIV. Ini adalah tantangan besar dan itu masih hari-hari awal tapi kemajuan telah luar biasa. "
Oxford, Cambridge, Imperial College London, University College London dan King College London telah berkolaborasi pada penelitian ini.

Profesor Sarah Fidler, seorang dokter konsultan di Imperial College London, mengatakan: "Terapi ini dirancang khusus untuk membersihkan tubuh dari semua virus HIV, termasuk yang aktif."

"Obat ini telah bekerja di laboratorium dan ada bukti yang baik bahwa obat tersebut akan bekerja pada manusia juga, tapi kita harus menekankan bahwa kita masih berproses dari setiap terapi pengobatan yang sebenarnya."

"Kami akan melanjutkan tes medis untuk lima tahun ke depan dan saat ini kami tidak merekomendasikan untuk berhenti ART tapi di masa depan tergantung pada hasil tes kita dapat eksplorasi selanjutnya."

Saat ini, pengobatan untuk HIV masih menggunakan ART (Anti-retroviral Therapy) yang dilakukan seumur hidup. Namun, sejumlah pengobatan baru yang sedang dikembangkan untuk penyakit ini, termasuk pra pajanan.

Pre-Exposure Profilaksis (PrPP) obat Truvada bisa mengurangi kemungkinan orang terinfeksi HIV hingga 99 persen, jika diminum setiap hari.

Wednesday, 20 July 2016

Pimpinan Gerakan LGBT Tunisia Di Temukan Dua Kali Melakukan Percobaan Bunuh Diri



Pride Indonesia - Tidak mudah untuk berjuang dengan membawa bendera pelangi, Ahmed Ben Amor adalah seorang pemimpin hak-hak LGBT di Tunisia ditemukan telah melakukan percobaan bunuh diri untuk kedua kalinya dalam seminggu setelah menghadapi banyaknya ancaman kematian.

Ahmed Ben Amor, wakil presiden dari organisasi kelompok LGBTI Shams, diketahui dalam koma setelah mencoba menelan puluhan pil.

sebagaimana dilaporkan dari GSN, Dia menghadapi gelombang kebencian dan ancaman setelah tampil di TV untuk berjuang mengakhiri hukum yang mengkriminalkan LGBT di Tunisia.

Pada hari Sabtu, ia metelan pil tak lama setelah tiba di rumah dari usaha bunuh diri pertamanya. teman sekamarnya tiba di rumah sekitar setengah jam setelah ia menelan pil dan menemukan aktivis tersebut masih terlihat sadar dan melarikanya ke RS.
"Aku ingin mati," kata Ahmed, sebelum kehilangan kesadaran.
Dia dilarikan ke rumah sakit di mana dia setelah kehilangan kesadaran, pada saat dilakukan pemeriksaan melalui Skala Glasgow goma dinyatakan bahwa dirinya berada pada tingkatan paling rendah di mana ia tidak bisa membuka matanya dan tidak dapat berbicara atau bergerak.

Dokter mengatakan kemungkinan bertahan hidup 'sangat tipis'.

'Maaf aku melepaskan segalanya,' Ahmed menuliskan status di Facebook dari ranjang rumah sakit setelah upaya percobaan bunuh diri di awal pertamanya. "Aku tidak mungkin dapat berkompromi dengan itu, saya tidak bisa berurusan dengan ancaman pembunuhan, seperti sebuah panggilan untuk penggantungan." ungkapnya.

'Kematian jauh lebih baik daripada mengingkari kebenaran".



Ahmed menerima gelombang ancaman pembunuhan dan ungkapan kebencian setelah ia tampil di sebuah talkshow yang sangat populer di negeri tersebut "Klam a Naas", mengundangnya dalam rangka kampanye yang dia lakukan untuk menyerukan diakhirinya hukum sodomi di Tunisia.

Banyak pemirsa terkejut dan melihat acara tersebut sebagai bagian dari promosi hak LGBTI di televisi nasional yang akhirnya membuatnya harus memilih untuk mengasingkan diri, mendapatkan serangan fisik ataukah dibunuh.

Setelah Ahmed mencoba bunuh diri untuk pertama kalinya, Hamad Sinno, vokalis dari band rock Labanese Mashrou 'Leila, membantu untuk memulai kampanye melalui Twitter dengan hashtag #WeLoveYouAhmed.



Hukum Tunisia menghukum seseorang yang melakukan sodomi meskipun atas kesepakatan antara orang dewasa dengan ancaman penjara sampai tiga tahun. Transgender, dan mereka yang LGBTI, sering dituduh dan didakwa dengan tuduhan sebagai penjahat yang melakukan 'Penghinaan terhadap kesusilaan umum'.

Temannya Conor Michael mengatakan: "Meskipun mengalami peristiwa tragis yang telah dialaminya minggu ini, Ahmed telah menjadi bintang yang sangat bersinar bagi pergerakan LGBT di Tunisia.

"Keberanian dan keteguhan hatinya dalam menghadapi gelombang kebencian yang begitu besar telah menjadi inspirasi bagi begitu banyak orang. Meskipun iklim di Tunisia tetap homophobic, yang dilakukan Ahmed dalam membawa pergerakan Hak-Hak LGBT ke mata publik telah memicu perdebatan sengit tentang topik LGBT, dimana sebagian besar orang nyaris tidak pernah dibahas sebelumnya."

'. Singkatnya, ia telah memberikan dampak positif bagi negaranya'

Berikut video talkshownya :



Tuesday, 19 July 2016

Benarkah, Tersangka Aksi di Bastille Seorang Biseksual?

Pride Indonesia - Ada yang unik dari beberapa temuan di Aksi yang terjadi di Nice, Prancis saat perayaan Bastille Day kemarin yang dilakukan oleh Mohamed Labouaiej Bouhlel.

Sebagaimana di lansir dari LGBT Nation dan Gay Star News, mengungkapkan Sebuah ponsel milik pembunuh saat perayaan Bastille Day di Nice, Prancis, Mohamed Labouaiej Bouhlel, dilaporkan berisi pesan, foto, dan video dari kekasihnya, baik pria maupun wanita.

Gay Star News melaporkan bahwa menurut saluran berita TV BFM, Bouhlel memiliki banyak foto narsis dan merekan hubungan seksualnya dengan pasangannya.

CBS News melaporkan ia juga menggunakan telepon untuk melakukan pencarian mengenai pembantaian yang terjadi di Orlando yang menewaskan 49 orang di sebuah klub malam gay bulan lalu, dan di klaim sebagai propaganda ISIS. Kelompok ini mengklaim Bouhlel adalah "Seorang Prajurit Islam."

Sekitar 200 petugas polisi dilaporkan menyelidiki data yang ditemukan pada ponsel, yang di pulihkan saat ditemukan dari truk yang digunakan Bouhlel untuk membunuh 84 orang pekan lalu dengan menembak dan mengendarai menabrakkan diri ke peserta yang mengikuti Bastille Day sepanjang jalan Promenade des Anglais.

Polisi akhirnya mengambil tindakan dengan menembak mati.

Dari ponsel ini juga dikabarkan mengungkapkan ia sering beermain fitnes dan mengunjungi bar, dan terungkap juga bagaimana dirinya menggunakan ponsel untuk berselancar mengunjungi website yang menunjukkan eksekusi oleh ISIS.

BBC melaporkan istrinya meninggalkan dia karena "Perilaku kekerasan" Saudaranya mengatakan kepada CBS News bahwa dia telah diindoktrinasi oleh kelompok teror dalam beberapa minggu terakhir.

Thursday, 14 July 2016

Terapi HIV Menjadi Pencegahan HIV Bahkan Ketika Tidak Menggunakan Kondom



Pride Indonesia - Dalam sebuah studi terbesar saat ini dengan mengguanakan 40.000 responden penelitian, peneliti Eropa menyimpulkan bahwa memungkinan orang yang hidup dengan HIV positif dan melakukan ART (Antiretoviral Teraphy) berhasil me'minimal'kan dampak paparan HIV kepada pasangan seksualnya - bahkan jika mereka secara teratur melakukan seks penetratif tanpa menggunakan kondom.

Melihat 888 pasangan dengan menggunakan sero-survey pada pasangan diskordan (di mana satu adalah HIV positif dan pasanganya HIV negatif), tidak ada satupun pasangan dari HIV positif yang terinfeksi HIV dari pasangan mereka selama penelitian. Penelitian sebelumnya telah memperkirakan bahwa penurunan risiko penularan sekitar 93%.

Studi yang dilakukan oleh PARTNER, merupakan riset kerjasama antara para peneliti di University of Liverpool, University College London, Royal Free NHS dan Rumah Sakit Rigshospitalet di Denmark. Hasilnya diterbitkan kemarin (12/7) dalam Journal of American Medical Association (JAMA).

Peneliti memonitor 888 pasangan dari 14 negara Eropa yang berbeda selama beberapa tahun (semua subjek direkrut antara 2010-2014, rata-rata studi dilakukan selama 1,3 tahun). Dari jumlah tersebut, 548 adalah heteroseksual dan 340 laki-laki gay.

Semua responden HIV positif dalam penelitian itu melakukan pengobatan antiretroviral secara rutin; mereka telah mendapatkan intervensi terhadap pengobatan HIV selama lebih dari enam bulan ketika memulai penelitian.

Secara total, dari 40.000 responden tersebut terungkap bahwa insiden penularan yang diakibatkan oleh hubungan seksual tanpa kondom oleh pasangan tersebut dinyatakan tidak ditemukan adanya penularan HIV.

Survei lain telah menemukan hasil yang sama, tetapi mereka cenderung melihat hanya pada pasangan heteroseksual dan dalam skala responden yang sangat kecil.

Sebelas orang terinfeksi HIV selama dalam proses penelitian tersebut - tetapi bukan dari hubungan seksual dengan pasangannya tersebut.

Para peneliti memang mencatat bahwa ada 11 orang dari pasangan responden tersebut menjadi HIV positif selama studi yang dilakukan oleh PARTNER tersebut. Namun, saat mempelajari DNA dari virus, mereka menyimpulkan bahwa orang-orang ini tidak menjadi positif dari pasangan mereka tersebut, tetapi dari sumber lain (misalnya dari kemungkinan memiliki pasangan seksual tanpa kondom dengan orang lain).

Peneliti dari Liverpool University, Profesor Anna Maria Geretti, mengatakan : "Virus HIV dapat dibagi menjadi beberapa sub-kelompok, masing-masing memiliki karakteristik genetik tersendiri, dan ini memungkinkan kami melihat apakah virus secara genetik mirip dengan pasangan mereka atau tidak. Dalam semua kasus, hasil penelitian menunjukkan bahwa virus itu berasal dari orang lain selain pasangan yang menjadi responden yang melakukan terapi pengobatan."

Mereka memberikan catatan bahwa pasangan yang bersedia untuk mengambil bagian dalam studi ini tidak mewakili mereka yang HIV positif pada umumnya yang biasa digunakan dalam penelitian, dan bahwa mereka yang HIV positif dan mengikuti studi ini belajar untuk lebih termotivasi secara ketat mematuhi terapi pengobatan HIV mereka.

Mereka mengatakan bahwa semua memiliki tingkat viral load (Jumlah copy virus) hampir tidak terdeteksi (Plasma viral load HIV kurang dari 200 kopi /mL).

Profesor Jens Lundgren dari Rigshospitalet, penulis senior dalam riset dan kepala CHIP (Pusat Kesehatan dan Penyakit Menular), mengatakan dalam sebuah pernyataan: "Hasil penelitian jelas menunjukkan bahwa diagnosis dini HIV dan akses ke pengobatan yang efektif sangat penting untuk mengurangi jumlah kasus HIV baru".

"Begitu pasien dinyatakan dengan HIV positif dan melakukan terapi pengobatan antiretoviral maka terapi tersebut mampu menekan viral load, dan risiko penularan menjadi sangat minimal."

"Ini adalah salah satu riset yang terbesar dalam perkembangan pengetahuan kita tentang HIV"

Namun, Ludgren tetap menggambarkan faktor risiko dengan ungkapan 'minimal', JAMA menyimpulkan bahwa, "Risiko tidak nol dan jumlah sebenarnya tidak diketahui, terutama bagi kelompok berisiko tinggi seperti LSL [lelaki yang berhubungan seks dengan laki-laki]."

Pasangan gay dalam penelitian ini akan terus dipantau selama tiga tahun untuk memperoleh data lebih lanjut - terutama dalam kaitannya dengan anal seks. 20% dari pasangan heteroseksual dalam penelitian ini, juga dilaporkan melakukan seks anal.

Berita tersebut disambut dengan mendapatkan tanggapan yang berbeda-beda oleh mereka yang memiliki hubungan dalam isu ini. Namun bagi mereka yang bekerja di bidang kesehatan seksual menyambut sangat baik hasil penelitan ini.

Simon Collins, menulis untuk i-Base perwakilan masyarakat yang menjadi dewan penasehat dari studi PARTNER ini, mengatakan bahwa meskipun tetap masih ada anggapan bahwa 'tidak ada risiko' yang didapatkan dan tidak bisa menjadikanya 'tidak ada resiko sama sekali', temuan dalam penelitian ini memberikan, "Perkiraan paling jelas tentang faktor risiko yang sebenarnya dari pertanyaan penularan HIV ketika orang dengan HIV positif memiliki viral load yang tidak terdeteksi kepada pasanganya yang negatif dan bahwa faktor risiko penularannya secara efektif menjadi nol ".

Dr Michael Brady, Direktur Medis di Terrence Higgins Trust, mengatakan, "Kami sekarang dapat mengatakan dengan keyakinan bahwa jika Anda minum obat HIV seperti yang ditentukan, dan memiliki viral load tidak terdeteksi selama lebih dari enam bulan, Anda tidak bisa memaparkan HIV kepada pasangan Anda, dengan atau tanpa kondom. Risiko secara efektif menjadi nol."

"Ini adalah salah satu penelitian yang terbesar dalam perkembangan pengetahuan kita tentang HIV sejak ART pertama kali diperkenalkan sekitar 20 tahun yang lalu. Ini memiliki potensi untuk menghilangkan stigma, diskriminasi dan mitos yang begitu banyak untuk orang yang hidup dengan HIV setiap hari; terutama di sekitar isu tentang risiko penularan HIV. "

Anthony Hayes, Wakil Presiden, dari Divisi Humas dan Kebijakan, GMHC New York , mengungkapkan pernyataan yang dikutip dari GSN bahwa survei tersebut memperkuat pentingnya orang mengetahui status mereka sedini mungkin sehingga mereka bisa menerima pengobatan yang tepat sedini mungkin juga.

"GMHC mejadi memiliki waktu yang cukup untuk memberikan alasan dukungan kepada orang untuk menggunakan ARV sesegera mungkin setelah mereka didiagnosis dengan HIV positif. Karena hal ini menyebabkan mereka mampu menekan viraload-nya akan membuat mereka hampir tidak mungkin menularkan virus. Tidak hanya peningkatan kesehatan yang optimal dengan bantuan ARV,  tetapi mereka juga sekaligus bertindak dalam proses pencegahan HIV. "

Wednesday, 13 July 2016

Imam Masjid di Irlandia mengudang LGBTIQ untuk Berbuka Bersama



Pride Indonesia - Menjelang berakhirnya bulan Ramadhan kemarin, Sebuah kelompok Muslim di Irlandia mengundang LGBT lokal untuk pesta makan malam dalam rangka perayaan Ramadan dalam kegiatan berbuka puasa bersama.

Pada hari Sabtu (2/7), Dewan Muslim untuk Perdamaian dan Kebersamaan Irlandia mengundang berbagai kelompok individu dari luar Islam untuk mengadakan buka puasa bersama.

Sebelum kegiatan, selaku Imam dan ketua dewan, Syaikh Dr. Umar Al-Qadri, mengumumkan melalui akun Facebook-nya bahwa dia bersemangat untuk bertemu orang-orang dari komunitas LGBT Irlandia. 

Dr. Umar Al-Qadri juga berkomentar bahwa tujuannya untuk mengundang berbagai kalangan dari luar Islam akan menunjukkan 'Contoh cita-cita Islam yang benar dan ideal.'

'Saat dimana lebih dari satu miliar Muslim di seluruh dunia merayakan Ramadhan dengan menjalankan puasa dan menghargai segala limpahan rahmat yang diberikan kepada kita, sama pentingnya bagi komunitas Muslim Irlandia untuk menjangkau tetangga kita untuk menunjukkan contoh cita-cita Islam yang benar dan ideal," Katanya.

Puasa selama bulan Ramadhan dijalani dari fajar hingga matahari terbenam dan menahan diri untuk tidak makan dan minum, dan merupakan salah satu dari lima rukun Islam. Melalui hari, muslim yang berpuasa harus menahan diri dari makan, minum, merokok, seks, dan kesenangan lainnya sampai malam datang. Makanan yang menandai akhir dari hari itu puasa mereka sebut sebagai Iftar.

Pertemuan yang digelar di Dublin ini juga dihadiri oleh Ummat Yahudi korban holocaust yang selamat dan pembicara tamu Tomi Reichental.

Dr. Al-Qadri dikenal menjadi salah satu pendukung yang sangat vokal bagi komunitas LGBT Irlandia.

Setelah tragedi Orlando, penembakan klub malam yang menewaskan 49 orang dan melukai 53 lainnya, Dr. Al-Qadri berdiri membangun solidaritas bersama dengan komunitas LGBT.

"Saya berdiri dengan komunitas LGBT dan terhadap marginalisasi kelompok manapun," katanya. "Ini seharusnya tidak terjadi. Kami adalah minoritas bagi diri kita sendiri, kita memahami apa itu diskriminasi. "

Dia menambahkan: 'Agama kami mengajarkan untuk tidak merugikan siapa pun tanpa memandang agama atau latar belakang mereka. Kita semua beragam, namun kita semua berbagi dalam satu hal - kemanusiaan kita.

'Menjadi LGBT bukanlah dosa, itu bukan sesuatu yang bisa Anda temukan dalam Quran. Kita tidak bisa memperlakukan mereka berbeda.

Berikut kemeriahan kegiatan berbuka bersama komunitas marginal di Irlandia yang diambil dari Facebook sang Imam :




Imam Pertama di Australia yang Terbuka sebagai Gay


Pride Indonesia - Namanya Nur Warsame, dia adalah imam Muslim pertama di Australia yang terbuka sebagai seorang Gay berbicara dalam sebuah Proyek yang dinamakan Project Waleed Aly, di mana dalam proyek tersebut membuka tantangan kepada pemimpin spiritual yang bersedia datang dengan tuuan mendamaikan identitas seksual dan agamanya:

"Ini menjijikkan, karena Kamu akan mengalami dampak Islamophobia secara ganda, baik dari masyarakat non-Muslim yang mayoritas dan beberapa di komunitas LGBT secara bersamaan."

Risiko dari terbuka dalam komunitas Muslim, ia mengungkapkan dampak yang akan diterima sangat "besar" seperti "Kamu akan dikucilkan, Kamu akan singkirkan, Kamu mendapatkan risiko kehilangan semuanya bahkan hidupmu. Saat ini, di berbagai belahan dunia." Sebagai seorang imam, Warsame memimpin kelompok bagi Muslim LGBT dan telah sangat vokal bersuara tentang bagaimana sulitnya untuk coming out.



"Aku memutuskan menggunakan cerita hidupku untuk berusaha mencoba dan membuat sebuah perubahan," katanya, sambil menceritakan bagaimana dia menjalani kehidupan ganda dan bagaimana usaha bunuh dirinya. Sebelum terbuka tentang seksualitasnya, Warsame sendiri sudah memiliki istri dan satu anak.

Pemimpin agama Muslim dan menjadi imam pertama di negaranya yang terbuka tentang seksualitasnya pada bulan Mei tahun ini. Warsame menekankan mendesak kepada negara bagaimana sulitnya konflik antara identitas diri dan agamanya, dan berharap atas perlindungan dibawah undang-undang. Pada tragedi Orlando, Warsame menyebutnya sebagai "Contoh paling komgkrit bagaimana ketertekanan diri dapat menyebabkan munculnya kekerasan" dan timbul sebagai sebuah lingkatan ketakutan yang sangat destruktif.

Namun, dia mengatakan dia optimis bahwa orang akan bersedia untuk mau bergerak maju dari apa yang disebutnya keyakinan yang terlalu kolot dan ketinggalan jaman. Warsame memberikan komentar bahwa itu  menjanjikan menjadi bagian yang berbeda bagaimana dunia menanggapi isu tersebut, Warsame mengatakan, "Saya percaya bahwa kami memiliki kesempatan besar sekarang untuk mengatasinya pada perspektif agama, tingkat budaya, dan tingkat sosial."

Sebuah proyek yang akan memberikan kekuatan dalam LGBTQ Muslim untuk berjuang dan berusaha menghubungkan diri dengan kelompok Marhaba. Di Amerika Serikat, yang merupakan Aliansi Muslim Untuk Keanekaragaman Seksualitas dan gender untuk dapat memberikan dukungan bagi  LGBTQ Muslim.

Kalo ingin melihat videonya bisa dilihat disini


Thursday, 30 June 2016

Ulama Pakistan membuat Fatwa Memperbolehkan Transgender Menikah





Pride Indonesia - Ulama Pakistan membuat trobosan luar biasa, sekelompok ulama Pakistan menyatakan pernikahan antar kaum waria dibolehkan dalam Islam. Mereka juga berhak dimakamkan secara Islam jika sudah meninggal.

Fatwa ulama Pakistan itu diperoleh kantor Reuters kemarin.

Fatwa baru tersebut dikeluarkan oleh Tanzeem Ittehad-i-Ummat—majelis ulama Pakistan. Menurut fatwa tersebut, pria transgender yang memiliki tanda-tanda menjadi lelaki diperbolehkan untuk menikahi seorang wanita transgender yang memiliki tanda-tanda menjadi perempuan.

Pria juga diperbolehkan untuk menikahi waria (wanita pria) yang berpenampilan perempuan.

Tapi, keputusan para ulama itu menuai kritik keras. Para penentangnya menilai mustahil waria dengan tanda-tanda dari kedua jenis kelamin menikah dengan siapa pun.

Selain soal pernikahan, fatwa ulama Pakistan juga menyimpulkan bahwa orang-orang transgender tidak bisa dicabut hak mendapatkan warisan.

”Orang tua yang melakukannya, mengundang murka Tuhan,” bunyi kutipan fatwa itu, seperti dikutip UPI. Para ulama menyerukan kepada pemerintah untuk mengadili orang tua yang mengambil tindakan seperti itu.

Lebih lanjut, fatwa ulama menyatakan dosa jika mempermalukan, menghina atau menggoda waria dengan cara apapun, termasuk menolak hak mereka untuk dimakamkan sesuai aturan Islam.

Kendati berpengaruh terhadap kelompok agama, fatwa tersebut tidak mengikat secara hukum. Di Pakistan, pernikahan kaum gay dalam bentuk apa pun bisa dihukum penjara seumur hidup. Di negara itu, juga tidak mengenal “jenis kelamin ketiga” pada identitas kartu tanda penduduk (KTP).

Aktivis transgender menyambut fatwa ulama yang dikeluarkan hari Minggu, dan meminta pemerintah untuk membuat keputusan yang mengikat secara hukum.

”Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah bahwa ulama telah mengangkat suara mereka dalam mendukung hak-hak kaum transgender,” kata aktivis transgender Qamar Naseem.

”Tapi kita harus melangkah lebih jauh untuk orang-orang transgender dan negara perlu untuk memperkenalkan undang-undang di atasnya.”


Pada 2012 Mahkamah Agung Pakistan menyatakan warga transgender punya hak setara warga lainnya, termasuk hak mendapat warisan.

Namun hukum pernikahan di Pakistan hingga saat ini masih abu-abu. Kaum homoseksual hingga kini dilarang menikah.


Paus Fransiskus mengatakan Gereja harus meminta maaf pada kaum gay





Pride Indonesia - Paus Fransiskus mengatakan Gereja Katolik Roma harus meminta maaf kepada para kaum gay atas cara-cara mereka dalam memperlakukan kalangan homoseksual.


Kepada para wartawan Paus menambahkan bahwa Gereja tidak punya hak untuk menghakimi komunitas gay, dan harus menghormati mereka.

Paus juga menambahkan Gereja harus meminta pengampunan dari orang-orang yang sudah terpinggirkan, baik dari kalangan perempuan, orang-orang miskin, dan anak-anak yang dipaksa bekerja.

Sikap positif Paus terhadap kaum homoseksual ini dipuji oleh banyak orang dalam komunitas gay, namun sebagian umat Katolik konservatif mengkritiknya dengan mengatakan pernyataan Paus bercabang soal moralitas seksual.

Berbicara kepada sejumlah awak media di pesawatnya sekembalinya dari Armenia, Paus mengatakan: "Saya akan mengulangi apa yang Katekismus Gereja katakan, bahwa mereka (kaum homoseksual] tidak boleh didiskriminasi, mereka harus dihormati, dan didampingi secara pastoral." Begitu ungkapan Paus sebagaimana dilansir dari BBC.

Paus Fransiskus mengatakan Gereja harus meminta pengampunan dari orang-orang yang telah terpinggirkan.

"Saya pikir Gereja bukan hanya harus meminta maaf kepada seorang gay yang merasa tersinggung, tetapi juga meminta maaf kepada orang-orang miskin, para wanita yang telah dimanfaatkan, juga pada anak-anak yang sudah dimanfaatkan (dipaksa untuk) bekerja. Harus meminta maaf karena telah diberkati dengan begitu banyak senjata. "

Pada tahun 2013, Paus Fransiskus menegaskan kembali posisi Gereja Katolik Roma bahwa tindakan homoseksual adalah dosa, namun orientasi homoseksual tidak.

“Jika seseorang berorientasi gay, mencari Tuhan, dan memiliki niat baik, apa saya punya hak untuk menghakimi mereka,” tuturnya lagi.

Dalam sambutan lainnya pada hari Minggu (26/6), Paus mengatakan dia berharap Uni Eropa akan pulih menyusul keputusan Inggris untuk meninggalkan organisasi itu.

"Ada sesuatu yang tidak berjalan dalam organisasi besar ini, tapi jangan melempar bayi keluar dengan air mandi, mari kita coba untuk memulai hal-hal, untuk menciptakan kembali," katanya.

Selama kunjungannya ke ibukota Armenia, Yerevan, Paus menjelaskan pembunuhan massal warga Armenia di bawah kekuasaan Turki Ottoman dalam Perang Dunia Pertama sebagai "genosida".

Turki selalu membantah jumlah orang yang tewas dan marah serta menolak istilah "genosida".
Wakil perdana menteri Turki, Nurettin Canikli menanggapi komentar Paus, dia "sangat menyayangkan" pernyataan Paus. Dirinya pun menambahkan komentar itu "mungkin untuk melihat semua refleksi dan jejak mentalitas tentara salib dalam tindakan kepausan".

Juru bicara Paus, Pastor Federico Lombardi, lantas mengatakan kepada para wartawan: "Paus tidak sedang berada pada perang salib. Dia juga sedang tidak mencoba untuk mengatur perang ataupun membangun dinding, tapi dia ingin menjembatani. Dia tidak mengatakan sepatah kata terhadap orang-orang Turki."

Monday, 27 June 2016

[OPINI] ISLAM dan SEJARAH PANJANG HOMOPHOBIA




Pride Indonesia -  Penembakan Orlando menjadi sebuah misteri yang memang sangat sulit untuk dijawab, fakta bahwa Omar Mateen sering mengunjungi Pulse, tempat dimana terjadi penembakan membuat banyak pakar psikologi bahkan di sleuruh dunia mencoba membuka diskusi tentang "Internalished homophobia". Dimaana Homophobia teradi karena "Terinternalisasi" sebagai sebuah kebencian terhadap identitas tubuhnya yang meluap dalam bentuk penembakan tersebut.
Uniknya, Omar sempat menghubungi 911 dan menyatakan sumpah kesetiaan terhadap ISIS namun juga bukan hanya ISIS melainkan juga termasuk Al Qaida, dan Heshbullah dimana kelompok-kelompok tersebut pada hakikatnya sangat berbeda dan saling berperang karena perbedaan idiologi politik yang dimiliki dan tentunya idiologi politik atas dasar apa yang diyakininya.
Penembakan Orlando yang membuat Omar Mateen juga mati tertembak oleh polisi dan menjadi salah satu sejarah penembakan terburuk di Amerika telah membuka banyak ruang diskusi bukan hanya pada persoalan Amerika yang masih berjuang untuk melakukan pengendalian terhadap kepemilikan senjata yang dimiliki oleh sipil. Namun juga membuka ruang diskusi tentang bagaimana Islam memandang keragaman seksualitas dan sejauh mana kelompok Islam di negara dimana Islam menjadi minoritas justru terkonseksi juga dengan perjuangan LGBTIQ yang sedang melawan Homophobia atau mulai terbukanya mereka yang LGBTIQ Muslim.
Uniknya memang Omar Mateen dan ini akan menjadi pembelajaran yang sangat baik untuk membuka ruang diskusi antara Islam dan LGBT dan bagaimana Sejarah Islam memandang LGBT sebagai bagian dari keragaman seksualitas, tentunya berbasis pada ungkapan Sang Istri yang menyatakan bahwa Omar peyakini bahwa dirinya adalah seorang Gay serta bagaimana Omar menggunakan aplikasi Gay dan menggunakanya untuk mengadakan "Kencan" serta tentunya kenyataan bahwa Omar juga sering berkunjung ke Pulse.
Stigmasi Homoseksualitas
Dalam teori kebutuhan dasar Maslow menjelaskan bagaimana hirarki kebutuhan manusia ditaruh dalam piramida kebutuhan dasar manusia dan kebutuhan fisiologis sebagai kebutuhan dasar dari setiap manusia termasuk didalamnya adalah bagaimana kebutuhan seks adalah menjadi kebutuhan dasar manusia (tentunya mnejadi berbeda untuk mereka yang aseksual tentang perspektif “kebutuhan seks” ini. Lalu persoalan menjadi muncul ketika kebutuhan itu meningkat pada level berikutnya yaitu kebutuhan atas keamanan, terutama keamanan yang bersifat sosial atau dalam bahasa yang dikenal oleh pergerakan LGBT disebut sebagai “Safe space” tidak terjawab.
Kebutuhan dasar yang “ditekan” oleh perspektif lingkungan yang tidak memberikan ruang yang langsung memberikan “Blok” yang teramat dalam terhadap apa yang dirasakan didalam hatinya yang terjadi secara alamiah (Jatuh cinta, merasa tertarik pada seseorang, dll) dan apa yang “lingkungan bangun” sebagai sebuah konstruksi sosial.
“Luka” akan semakin dalam ketika kita melihat pada level berikutnya, yaitu kebutuhan mencintai dan dicintai bagaimana mereka merasa “Diterima”, bagaimana mereka di hargai, dikasihi dan dicintai baik oleh orang yang dicintai dan tentunya lingkungan. Saat lingkungan tidak dapat menerima identitas dirinya, secara otomatis membuat seseorang memiliki ekspektasi yang sangat tinggi terhadap lingkungan yang dianggap mereka sebagai “Safe space” dan sayangnya, seringkali ekspektasi akan selalu tidak akan bisa sama dengan realita dan akhirnya membuatnya makin terluka dalam.
Sejarah Seksualitas Islam
Pada masa kejayaan Islam di Abad ke-8 dimana Khalifah Harun AL Rasyid memimpin, Harun Ar-Rasyid adalah kalifah kelima dari kekalifahan Abbasiyah dan memerintah antara tahun 786 hingga 803. Ayahnya bernama Muhammad Al-Mahdi, khalifah yang ketiga dan kakaknya, Musa Al-Hadi adalah kalifah yang keempat. Ibunya Jurasyiyah dijuluki Khayzuran berasal dari Yaman.
Pada masa itu. Selain kisah kejayaan dalam membangun Kota Baghdad dan keberhasilannya memberikan perlindungan, kemanan, kesejahteraan dan kedamaian kepada rakyatnya. Juga membangun majelis Al-Muzakarah, yakni lembaga pengkajian masalah-masalah keagamaan yang diselenggarakan di rumah-rumah, mesjid-mesjid, dan istana. Disini uniknya. Ia memiliki seorang kadi (penasihat kerajaan) yang sangat cerdas yang dikenal dengan nama Abu Nawas menurut cerita Rakyat Irak, ia suka menantang Abu Nawas dengan hal yang aneh kepada Abu Nawas bahkan di salah satu cerita rakyat ia pernah disuruh memindahkan istananya. Kita tau tentang kisah Abu Nawas nyaris sebagai dongeng namun yang tidak banyak diketahui oleh orang adalah identitasnya sebagai seorang Gay dan Khalifah tetap memberikan kepercayaan Abu Nawas sebagai seorang penasehat.
Salah satu tokoh paling penting pada masanya dimana Gay juga diberikan peranan yang sangat penting dipemerintahan, salah satu tulisan yang terkenal dan masih bisa bertahan sampai sekarang adalah kisah 1001 malam atau dalam bahasa Urdu dikenal sebagai Alif Laila, namun sebagaimana kita ketahui sejarah Abu Nawas tidak diugkap di publik karena identitas seksualnya dan pada tahun 2001, karena dianggap sebagai bagian dari “Sejarah buruk” bagi Islam, Kementrian Kebudayaan Mesir membakar lebih dari 6000 karyanya yang dianggap menunjukkan “Homoerotism”.


Kondisi Orlando sempat membuat salah satu tokoh muslim berkicau “Berarti, hakikatnya ISIS tidak tau sejarah tentang kekhilafahan” sebagaimana kicauan Khaled Diab seorang wartawan keturunan Belgia-Mesir, lalu melanjutkanya dengan kalimat “Di Baghdad, itu akan melibatkan arak, syair-syair untuk anggur, dan ilmuwan dari istana” merujuk pada kisah Abu Nawas.
Selain Abu Nawas, ada banyak kisah tentang interaksi homoseksual pada masa kekhalifaan, nahkan sastra percintaan antar dua lelaki sebagaimana pernah tertuang pada syair cinta Jalaludin Rumi kepada Syam dan kesedihan akan kehialanganya yang menciptakan tarian sufi paling terkenal.
Melawan Kontaminasi Kolonialisme
Baghdad adalah, sampai saat Mongol menginvasi dan menghancurkan, menjadi bagian modal dari banyak budaya dunia - New York City pada masanya. Jika Nuwas dan puisi homoerotic nya bisa mewakili seberapa tingginya budaya Baghdadi, adalah wajar bahwa masyarakat Muslim lainnya juga seharusnya sangat terbuka terhadap homoseksualitas. Sebagai sejarawan Saleem Kidwai menempatkannya dalam buku luar biasa tentang Kisah Cinta Sesama Jenis di India, "laki-laki Homoerotically justru cenderung terlihat nyata dalam sejarah abad pertengahan Muslim dan umumnya digambarkan tanpa komentar yang merendahkan."
Tantanganya adalah, bagaimana sejarah mengenai keberagaman seksualitas tersebut dapat menjadi bagian dari persoalan yang sudah terlanjur terkontaminasi oleh perspektif sejarah kolonialisme yang saat itu menganggap bahwa homoseksualitas sebagai perendahan martabat bangsa barat sebagaimana kisah Sutjipto tentang bagaimana yang pada masa awal penerbitan sebenarnya diberikan judul “Djalan Sempoerna” dan kemudian diganti menjadi “Gay Pilihan Jalan Hidupku” dan sempat ditarik oleh pemerintahan Suharto.
Buku yang ditemukan oleh Ulrich Kratz pada tahun 1970 di Perpustakaan Nasional tersebut mengisahkan bagaimana gerakan anti-homoseksual pada masa kolonialisme antara 1938-1939 didasarkan pada kisah asli dari Sutjipto saat terjadinya tindakan untuk menangkap mereka yang diduga homoseksual dan pasangan Sujtipto saat itu adalah Overbeck termasuk saat itu Walter Spies, Balinonologis Roelof Goris.

Tuesday, 14 June 2016

Penembak Orlando Memiliki Aplikasi JackD dan Sering ke Gay Club






Pride Indonesia - Beberapa saksi mata memberikan laporan yang mengejutkan, dari pemantauan GSN, Gawker dan LA Times mengungkapkan bahwa pelaku yang melakukan penembakan brutal pada Sabtu malam itu bukan pertama kalinya penembak Omar Mateen telah ke klub malam Pulse di Orlando tersebut.

Dia juga sempat dikabarkan menghubungi beberapa pria pada aplikasi socmed gay.
Kevin West mengatakan pada MSNBC bahwa Mateen menghubunginya dan setidaknya satu temannya tiga bulan yang lalu melalui aplikasi Jack'D.
"... Dia mengatakan hal-hal seperti," klub Apa yang ada dan hal-hal semacam itu, apa tempat yang asik buat hangout? "' West mengatakan kepada koresponden MSNBC Chris Hayes.
Menurut beberapa saksi, pria berusia 29 tahun tersebut telah pergi ke Pulse setidaknya sudah lebih dari sepuluh kali sebelumnya dalam tiga tahun terakhir dan kadang-kadang minum berlebihan.
"Kadang-kadang ia akan pergi di pojok ruangan dan duduk dan minum sendiri, dan di  lain hari ia akan mabuk dan melakukan kekacauan jadi dia memang berwatak keras dan agresif," Ty Smith menceritakan pada Orlando Sentinal.
Ditambahkan Smith: "Kami tidak benar-benar berbicara banyak dengan dia, tapi saya ingat dia terkadang bercerita tentang ayahnya beberapa kali. Dia bilang dia punya istri dan anak. "
Pasangan Smith, Chris Callen, mengatakan pada Canadian Press. Mereka berhenti berbicara dengan Mateen setelah ia mengancam mereka dengan pisau selama perbincangan panas tentang agama.
"Dia telah pergi ke bar ini untuk setidaknya selama tiga tahun," kata Callen.
Pasangan ini juga mengisahkan sebelumnya tentang keyakinanya bahwa ayah Mateen pasti akan mengatakan anaknya menjadi marah baru-baru ini setelah melihat dua pria berciuman.
Kata Smith: 'Beberapa orang-orang melakukan lebih dari sekadar itu (ciuman) di luar bar .... Ia berpesta dengan orang-orang yang konon mengajaknya untuk melakukan hal ini? '
Mateen menewaskan setidaknya 49 orang sebelum akhirnya ia bunuh diri. Lain 53 orang terluka dalam pembantaian di dini hari Minggu.
Dia berkomitmen penembakan massal terburuk dalam sejarah AS. Mateen berbaiat setia kepada Negara Islam (juga dikenal sebagai ISIL).

Seorang yang Diduga Akan Melakukan Penyerangan di LA Pride di Tangkap


Pride Indonesia - Kepolisian LA melakukan penangkapan terhadap seorang pria sebelum Acara LA Pride dimulai pada, 12 Juni di Los Angeles. Terduga yang bernama James Wesley Howell diduga akan melakukan penyerangan dalam acara tersebut.
Menurut Departemen Kepolisian Santa Monica, tersangka adalah James Wesley Howell. Dia berasal dari Indiana tetapi, seperti yang dilaporkan Indy Star, saat ini tidak ada informasi yang pasti darimana dia berasal.
Menurut ABC 7, stasiun berita lokal, polisi menghentikan laju kendaraan Howell setelah adanya laporan dari warga. Tersangka sedang duduk di mobilnya ketika polisi tiba. mobil terdaftar di Indiana.
Petugas menemukan tiga senjata serbu, Majalah terkemuka dan amunisi, dan lima galon bahan kimia yang bisa digunakan untuk membuat bahan peledak.
Laporan sebelumnya mengatakan tersangka diduga mengatakan ia ingin melakukan serangan pada parade LA Pride. Namun laporan tersebut telah diklarifikasi. Polisi Santa Monica Letnan Saul Rodriguez mengadakan konferensi pers hari ini,Howell mengakui bahwa ia hanya ingin menghadiri acara LA Pride .
Penjinak bom telah melakukan pemeriksaan pada kendaraan dan area sekitarnya.
FBI merupakan bagian dari penyelidikan.
Saat ini kejadian tersebut tidak ada hubungan dengan serangan di Orlando, Florida.


 

Monday, 13 June 2016

James Corden Mempersembahkan 70th annual Tony Awards Untuk Tragedi Orlando


Pride Indonesia - James Corden membuka 70thTony Awards dengan pesan sedih tentang serangan teror mengerikan di sebuah klub malam gay di Orlando, Florida, yang menewaskan 50 orang tewas dan 53 luka-luka.

'Di seluruh dunia, orang berusaha untuk berdamai dengan peristiwa mengerikan yang terjadi di Orlando pagi ini," kata Corden. 'Atas nama seluruh komunitas teater dan setiap orang di ruangan ini, hati kita hadir bersama mereka yang terkena dampak kekejaman ini. Semua dapat kita katakan adalah Anda tidak sendiri sekarang."
'Tragedi Anda adalah tragedi kami," lanjutnya. 'Theater adalah tempat di mana setiap ras, keyakinan, seksualitas dan jender sama, dipeluk, dan dicintai. Benci tidak akan pernah menang. Bersama-sama, kita harus memastikan bahwa. acara malam ini berdiri sebagai simbol dan perayaan prinsip itu. "







Acara penghargaan tersebut telah menciptakan warna pita perak untuk menghormati para korban penembakan.
Di karpet merah, selebriti termasuk Corden, Cate Blanchette, Neil Patrick Harris dan lebih mengenakan pita 'mengenang' dari mereka yang terluka oleh kekerasan yang tidak masuk akal.

Kisah Ibu yang Mencari Anak dan Pasanganya di Tragedi Orlando



Pride Indonesia - Kisah tragedi Orlando membuat kita harus berfikir bahwa kebencian terhadap LGBTIQ bisa saja terjadi di Indonesia, namun dari semua berita tentang Tragedi Orlando, ada kisah manis namun tragis dari seorang Ibu yang mencari anak dan pasangannya dan telah menjadi viral di sosial media dan diwawancarai oleh ABC dan CNN.

Christine Leinonen berbagi kisah tentang anaknya Christopher dengan ABC News, meskipun kematiannya saat itu belum resmi.Polisi Orlando mengatakan bahwa 48 dari 50 dari mengidentifikasi korban telah dikonfirmasi, namun daftar lengkap nama-nama belum akan dirilis.Christine sebelumnya diwawancara sedang menunggu kabar tentang keberadaan anaknya di luar Medical Center Orlando Regional kemarin, dengan kata-kata yang kuat dia menangkap banyak kisah sedih dari hati seorang ibu.Selama wawancara, dia membuat ungkapan yang emosional mengenai kepemilikan senjata, mengatakan: "Bisakah kita melakukan sesuatu dengan senjata sehingga kita bisa menghentikan ini 'Dia menambahkan: 'Silakan mari kita bersama. Kita di dunia ini hanya sementara. Mari kita mencoba untuk menyingkirkan kebencian dan kekerasan. '


 
Dia menambahkan bahwa kata-kata terakhir dari sang anaknya adalah 'Aku mencintaimu.". Sayangnya, pada akhirnya beliau mengetahui bahwa anak dan pasanganya adalah termasuk dari dua korban tewas dari 50 orang yang menjadi korban tewas pada tragedi tersebut.Omar Mateen menewaskan 50 orang dan melukai 53 lainnya di Klub Malam Pulse di Orlando kemarin. Ia kemudian tewas dalam baku tembak dengan polisi.

ISIS Mengklaim Bertanggung Jawab Atas Tragedi Orlando

Photo by The Guardian

Pride Indonesia - Kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) mengklaim bertanggung jawab atas aksi penembakan massal yang terjadi di sebuah klub malam di Orlando, Pulse Club pada Minggu dini hari, 12 Juni. Klaim itu disampaikan melalui sebuah aplikasi pesan pendek Telegram dan tidak tertulis si pengirim. 

"Serangan yang menyasar sebuah klub malam bagi kaum homoseksual di Orlando, Florida, dan menyebabkan lebih dari 100 orang mati dan terluka dilakukan oleh seorang pejuang ISIS," ujar kelompok tersebut dan disebarluaskan melalui media resmi mereka, Amaq. 

Klaim itu berkembang usai pelaku, Omar Mateen diketahui sempat menghubungi polisi melalui 911 sebelum melakukan serangan. Tujuannya, karena pria berusia 29 tahun itu ingin menyampaikan dia telah berbaiat ke ISIS. 

Majalah Time menyebut dalam jumpa pers yang dilakukan pada Minggu siang, pejabat berwenang Biro Investigasi Federal (FBI) membenarkan adanya telepon yang dilakukan Mateen ke polisi. Tetapi, dia tidak menyebut isi pembicaraan di telepon. 

Sementara, keterlibatan Mateen dalam aksi penembakan tersebut membuat berbagai pihak terkejut, termasuk perusahaan keamanan tempatnya bekerja, GS4. Mereka mengaku telah mempekerjakan Mateen sejak tahun 2007. 

"Kami akan bekerja sama dengan otoritas berwenang," tutur perwakilan perusahaan. 

Keluarga pun juga terkejut mendengar Mateen melakukan penembakan massal dan menewaskan korban terbanyak dalam sejarah peristiwa serupa di Amerika Serikat. Kepala Polisi Orlando, John Mina menyebut keluarga telah meminta maaf kepada publik atas kejadian itu. Sementara, Ayah Mateen, Seddique  mengaku tidak tahu mengapa putranya bisa tega melakukan perbuatan itu. 

"Saya tidak tahu mengapa dia melakukannya. Sekarang dia sudah meninggal, jadi saya tidak bisa menanyakan hal itu kepadanya. Saya berharap tahu sejak awal," ujar Seddique ketika diwawancarai NBC News. 



Tetapi, dia menegaskan peristiwa penembakan massal itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan agama. Menurut sang Ayah, baru-baru ini Mateen memiliki sentimen negatif terhadap kaum homoseksual ketika melihat sepasang homoseksual tengah berciuman di Miami. 

"Ciuman itu terlihat di depan istri dan anaknya, sehingga dia menjadi marah," tutur Seddique.
Tetapi, penyidik masih terus melakukan penyelidikan. Kini, mereka masih meminta keterangan kepada anggota keluarga lainnya. 

Sosok yang tidak stabil
Namun, beberapa orang yang mengenalnya justru ragu jika pria berusia 29 tahun itu memiliki sentimen negatif kepada kelompok homoseksual. Kepala Pusat Islam di Fort Pierce, Syekh Shafeeq Rahman mengaku tidak pernah didatangi oleh Mateen dan ditanyakan mengenai isu homoseksual. 

 Tetapi, dia menyebut Mateen sulit memiliki teman. Biasanya dia datang ke masjid pada malam hari dengan membawa putranya. Setelah selesai salat, lalu dia pergi. 

Komentar yang sama juga disampaikan oleh kakak kelas Mateen di SMA, Samuel King. Dia mengaku masih berkomunikasi setelah keduanya lulus pada tahun 2004 lalu. Saat itu, King sudah bekerja sebagai petugas keamanan di Restoran Ruby Tuesday, sedangkan Mateen bekerja di toko nutrisi, GNC yang terletak di sebuah pusat perbelanjaan. 

Bahkan, kepada Mateen, King mengaku secara terbuka dirinya homo dan dia tidak mempermasalahkan hal tersebut. 

"Dia tidak pernah menunjukkan rasa bencinya kepada saya dan teman-teman saya. Bahkan, dia selalu tersenyum, menyapa dan mengatakan 'halo'" ujar King sambil menyebut ada yang berubah dalam diri Mateen akhir-akhir ini. 

Sementara, mantan istri Mateen, menyebut mantan suaminya itu bukan sosok pria dengan emosi stabil. Bahkan, selama menikah, Mateen kerap memukulnya hanya karena alasan sepele. 

"Dia bisa saja kembali ke rumah lalu memukul saya, hanya karena pakaian belum selesai dicuci," tuturnya kepada harian Washington Post. 
 
Dia mengenang bertemu Mateen melalui dunia maya 8 tahun lalu, kemudian memutuskan pindah ke Florida untuk menikah. 



Pernah diwawancarai FBI
Mateen diketahui pernah dimintai keterangan oleh petugas FBI sebanyak dua kali. Menurut agen khusus yang bertanggung jawab dalam kasus itu, Ron Hopper, Mateen dimintai keterangan sebanyak dua kali yakni tahun 2013 dan 2014. 

Pada tahun 2013, dia dimintai keterangan karena diduga memiliki kaitan dengan salah satu anggota kelompok radikal. Sedangkan, di tahun 2014, FBI kembali meminta keterangan karena Mateen diduga memiliki hubungan dengan Moner Mohammad Abu-Salha, warga Amerika Serikat yang menjadi pelaku bom bunuh diri di Suriah. 

Tetapi, saat itu FBI melepaskannya, karena Mateen jarang berkomunikasi dengan Salha dan dianggap bukan sebagai ancaman. 

Hingga saat ini polisi masih mencari tahu motif penembakan tersebut. Sementara, polisi mengoreksi jumlah korban tewas akibat aksi penembakan massal. Jika sebelumnya mereka menyebut jumlah korban 20 orang, maka mereka mengklarifikasi korban tewas ternyata lebih tinggi yakni mencapai 50 orang.

Total korban luka ikut bertambah menjadi 53 orang dan mereka sudah dilarikan ke berbagai rumah sakit. Salah satu korban luka merupakan petugas polisi. 

Berdasarkan informasi dari Pemerintah Indonesia, tidak ada WNI yang menjadi korban tewas atau luka dari insiden tersebut. 

"KJRI Houston akan terus memantau perkembangannya dan berkoordinasi dengan otoritas setempat serta jaringan masyarakat Indonesia," Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri, Lalu Muhammad Iqbal dalam keterangan tertulis pada Minggu, 12 Juni. 

Sementara, Mateen tewas saat baku tembak dengan petugas polisi. Dia diketahui membawa senapan tangan, senapan jenis AR 15 dan beberapa alat mencurigakan. Alat tersebut ditemukan di jenazah, mobil yang dikendarai Mateen dan di dalam klub. 

Peristiwa teror domestik
Mateen datang ke klub tersebut sekitar pukul 02:00 waktu setempat. Dia langsung masuk ke dalam klub, mengeluarkan senjata, dan melepaskan tembakan ke arah atap klub serta ke pengunjung.

Mateen menembak ke arah pengunjung secara membabi buta. Sementara, saat itu diperkirakan terdapat lebih dari 100 pengunjung. Selama beberapa jam, sempat terjadi aksi penyanderaan di klub itu. 

Situasi itu akhirnya berhasil diatasi ketika tim SWAT menyerbu ke dalam klub sekitar pukul 05:00. Salah satu pengunjung klub yang bersembunyi di dalam terus berkomunikasi dengan polisi di saat pelaku lengah.

Sempat terdengar ledakan di dalam klub. Tetapi, menurut polisi ledakan itu berasal dari alat pengalih perhatian yang digunakan untuk menyelamatkan sandera dari dalam klub. Total terdapat sekitar 30 sandera yang berhasil diselamatkan.

Dalam jumpa pers yang dilakukan pada Minggu pagi, juru bicara Biro Investigasi Federal (FBI) meyakini pelaku memiliki keyakinan ekstrim dan kemungkinan terkait dengan kelompok radikal Negara Islam dan Irak Suriah (ISIS). Kendati begitu, mereka tetap membuka peluang adanya petunjuk lainnya.

Tetapi, mereka tidak menampik bahwa aksi penyerangan itu tergolong rapih.

Sementara, polisi belum bisa mengkonfirmasi apakah pelaku beraksi seorang diri atau berkoordinasi dengan pihak lain. Mereka memastikan usai aksi tersebut tidak ada peningkatkan ancaman di Orlando dan area sekitarnya.

"Ini merupakan sebuah kejadian yang saya nilai bisa dikategorikan sebagai peristiwa teror domestik," ujar petugas polisi Jerry Demings kepada harian The Guardian.

Presiden Barack Obama dilaporkan juga sudah mengetahui peristiwa penembakan massal ini. Dia meminta agar terus dikabari mengenai perkembangan kasus penembakan massal tersebut.

"Doa kami bersama keluarga dan orang-orang terkasih korban," demikian pernyataan Gedung Putih.
Ini peristiwa penembakan kedua yang terjadi di Orlando dalam satu pekan. Sebelumnya pada Jumat malam, 10 Juni, penyanyi dan mantan kontestan ajang pencari bakat The Voice, Christina Grimmie juga tewas ditembak usai menggelar konser. Dia ditembak di bagian kepala ketika tengah memberikan tanda tangan bagi 60 penggemarnya. 

Tetapi, menurut keterangan pejabat berwenang yang dikutip kantor berita Reuters, aksi penembakan yang menewaskan Grimmie tidak terkait dengan peristiwa di Klub Pulse. 

More on this category »