Menu

More on this category »

Friday, 5 February 2016

Fakta dan Mitos soal LGBT



Pride Indonesia - Kita tahu akhir-akhir ini LGBT menjadi sorotan Nasional dan sekali lagi bermunculan mitos-mitos bahkan hoax tentang LGBT menjadi firal di media sosial di Indonesia. Pro dan kontra pasti ada namun saatnya kita berfikir cerdas tentang LGBT.

Pandangan LGBT terbagi menjadi tiga kelompok besar di masyarakat yang pertama adalah pemikiran Konservatif dimana pemikiran pihak yang konservatif jelas-jelas menjustifikasikan LGBT sebagai kelainan jiwa, pendosa dan patut untuk "disembuh"kan. Kedua, adalah pemikiran yang liberalis yang hanya memandang perjuangan HAM sebagai wujud penegakan keadilan sosial bagi seluruh warga negara Indonesia yang berfikir bahwa LGBT terjadi karena genetis namun yang mungkin bisa dikenalkan adalah pemikiran yang lebih Transformatif dimana seseorang seharusnya berdulat atas tubuhnya, setiap manusia memiliki otonomi atas tubuhnya.

Berikut Mitos dan Fakta yang paling sering kita dengar jika berbicara tentang LGBT.

LGBT bisa sembuh


Ada banyak pemikiran bahwa menjadi LGBT bisa disembuhkan, jawabanya jelas TIDAK BISA karena LGBT bukanlah Kelainan Jiwa apalagi Gangguan Jiwa yang sering disbeut dengan "Sakit". Dalam teori Kebutuhan Dasar Manusia oleh Maslow. Seksualitas adalah kebutuhan dasar manusia yang ada di tempat paling dasar piramida. Seksualitas itu seperti kebutuhan dasar biologis lainya seperti makan, minum, dan mencintai dan dicintai adalah salah satu yang pasti akan dialami oleh setiap manusia walaupun tetap ada 1% manusia didunia ini tercipta sebagai manusia aseksual dimana mereka tidak memiliki ketertarikan pada semua gender.



Lalu bagaimana mereka yang "Berhasil" menikah dengan lawan jenis? Tentu kita memahami bahwa seksualitas tidak bisa dilihat hanya hitam dan putih semata tetapi memiliki spektrum yang sangat luas dari heteroseksual - biseksual hingga homoseksual. Bisa jadi memang mereka memiliki orientasi seksual biseksual namun bisa juga mereka "Terpaksa" mengikuti pola struktur masyarakat dimana pernikahan hanya terjadi pada lelaki dan perempuan. 

Menentukan pasangan untuk menikah adalah salah satu Hak Kesehatan Reproduksi setiap individu termasuk menentukan proses reproduksi. Orientasi Seksual, Pilihan untuk pasangan dan memiliki adalah hal yang berbeda. Memiliki keturunan hanya membutuhkan satu sel sperma untuk membuahi ovarium dan tidak ada sangkt pautnya dengan orientasi seksual sama sekali.

Bagaimana dengan terapi Hormon? Ada banyak LGBT yang pada akhrinya memilih untuk menikah dengan lawan jenis, jadi terapi hormon TIDAK AKAN BERPENGARUH dengan orientasi seksual sama halnya dengan bagaimana mereka bisa memiliki keturunan saat menikah dengan lawan jenis.


LGBT itu pilihan  


Sebagaimana Teori Maslow diatas, LGBT Jelas BUKAN PILIHAN untuk menjadi LGBT. Setiap manusia memiliki masa pubertas masung-masing (Tentunya sekali lagi menjadi berbeda dengan mereka yang aseksual). Pubertas adalah masa adalah masa ketika seorang anak mengalami perubahan fisik, psikis, dan pematangan fungsi seksual tentunya juga terkait dengan pemahaman seseorang tentang seksualitasnya. Masa pubertas dalam kehidupan kita biasanya dimulai saat berumur 8 hingga 10 tahun dan berakhir lebih kurang di usia 15 hingga 16 tahun. Dan itu sangat NORMAL.

Lalu bagaimana dengan perspektif banyak orang yang menanyakan "Sejak kapan merasakan menjadi LGBT?". Itupun pertanyaan yang sangat normal senormal pertanyaan "Kapan kamu pertama kali jatuh cinta?"


Penelitian terbaru menyatakan tidak ada gen LGBT



Yups, beberapa kali pernyataan hasil temuan sebuah universitas yang menyatakan bahwa tidak ada bukti yang menyatakan bahwa menjadi LGBT itu karena genetik. Dengan sangat percaya diri menunjukkan objek dua anak kembar yang satu adalah Gay dan yang satu bukan Gay lalu menyimpulkan bahwa tidak ada pengaruh genetik terhadap LGBT.

Pertama, mari kita pahami apa itu genetik. Genetik adalah (kata serapan dari bahasa Belanda: genetica, adaptasi dari bahasa Inggris: genetics, dibentuk dari kata bahasa Yunani: γέννω, genno yang berarti "melahirkan") adalah cabang biologi yang mempelajari pewarisan sifat pada organisme maupun suborganisme (seperti virus dan prion). Artinya, ibu memberikan gen "LGBT" kepada kita, walaupun di beberapa penelitian bahwa fase 3 bulan kehamilan adalah fase yang sangat menentukan terhadap bagaimana gen seseorang terbentuk namun tetap saja itu sangat rancu karena LGBT adalah "Apa yang ada di hati kita kepada seseorang" jadi sampai kapanpun "Gen LGBT" akan tetap menjadi perdebatan yang tidak berkeseduhan.

Kedua, kenapa DSM (diagnostic and statistical manual of mental disorder) atau di Indonesia disebut PPDGJ (Pedoman Penggolongan Diagnosa Gangguan Jiwa) atau APA (American Psikiatri Assosiation) -Sebagai sesuatu yang seharusnya menjadi panduan bagi semua Psikolog dan Psikiater di Indonesia- LGBT TIDAK LAGI dianggap menjadi sesuatu yang abnormal disorder karena adanya penelitian yang dilakukan kepada 50 LGBT dan 50 Heteroseksual (Straight) lalu ditunjukkan pada kongres psikiater dan tidak ada satupun yang bisa membedakan dimana mereka yang LGBT dan mana yang Straight dari perdebatan panjang itulah akhirnya memang tidak ada parameter yang menunjukkan bahwa LGBT adalah sebuah Gangguan Mental atau Gangguan Jiwa.



LGBT bisa menular 


Don't Worry, kita sering mendengar istilah "Gay is Ladies Best friend" kan? dan tidak ada satupun yang menjadi lesbian hanya karena bersahabat dengan LGBT. Logika paling gampang adalah. Kita hidup dari kecil di lingkungan heteroseksual dan kita pahami bahwa tidak satupun menjadi LGBT hanya karena mereka berteman dengan LGBT. Bahkan terkadang banyak diantara kita hidup satu kamar atau satu ranjang dalam jangka waktu yang lama dan tidak ada bukti nyata bahwa LGBT "menularkan" ke-LGBT-annya.

Lalu bagaimana dengan mereka yang disebut "Pedofilia" yang sering dijadikan alasan masyarakat untuk menampilkan seolah-olah LGBT itu menular karena menjadi LGBT salah satunya karena trauma di masa kecil. Ok, kita kaji lagi istilah "Trauma Psikologis" dulu. Trauma psikologis adalah jenis kerusakan jiwa yang terjadi sebagai akibat dari peristiwa traumatik. Ketika trauma yang mengarah pada gangguan stres pasca trauma, kerusakan mungkin melibatkan perubahan fisik di dalam otak dan kimia otak, yang mengubah respon seseorang terhadap stres masa depan. Jadi logikanya, jika seseorang "Trauma" karena mengalami pelecehan seksual seharusnya orang tersebut akan mengalami stress dan depresi karena dalam psikiatri, “trauma” memiliki makna yang berbeda dan mengacu pada pengalaman emosional yang menyakitkan, menyedihkan, atau mengejutkan, yang sering menghasilkan efek mental dan fisik berkelanjutan. Artinya, tidak ada istilahnya trauma berefek pada ketagihan.

Tuhan tidak mencipta LGBT. LGBT itu kejahatan melawan tuhan dan alam


Ini yang paling sering digunakan untuk menjustifikasi bahwa LGBT itu bersifat Tidak Natural atau hanya lifestyle yang dipilih oleh manusia. "Binatang saja bisa memilih Jantan dan Betina", begitu pasti yang sering kita dapatkan dalam komentar.

Faktanya, lebih dari 1600 spesies di alam ini yang juga memiliki kecenderungan interaksi dengan sesama jenis kelamin, bahkan ada binatang yang mampu mengganti alat kelamin sesuai dengan keadaan atau kebutuhan. Bahkan saat SDpun, kita diajarkan tentang binatang bersel tunggal sebagai wujud keanekaragaman fauna yang tidak berkelamin. Coba cek disini.

Tapi, pasti Jawaban tersebut dibalikin "Manusia kan bukan hewan, kamu mau jadi hewan?"

Tuhan itu Maha segalanya, dia mampu menciptakan apapun sesuai yang dikehendakinya "Kun, Fayakun" (Jadi, maka jadilah) begitu yang sering kita dengarkan. Jadi, kenapa tidak mungkin Tuhan menciptakan LGBT sebagai bagian dari keragaman manusia? Bahkan interseksualitas saja mempunyai banyak sekali bentuk.

Kitab suci jelas2 Menyatakan LGBT itu dosa dan layak dihukum mati!


Saat ini, pada akhirnya banyak yang mencoba melakukan analisis terhadap teks-teks ke agamaan untuk bisa memahami apakah memang yang ada dalam alkitabiah adalah teks-teks yang terkait dengan Homoseksualitas atau LGBT. Terlalu sensitif jika kami melakukan telaah yang mendalam terkait teks-teks yang pada hakikatnya TIDAK PERNAH MENGHAKIMI LGBT seperti kata Sodom dan Gomora yang konon berasal dari kata Sodom (bahasa Arab: سدومSadūm,bahasa Ibrani: סְדוֹם, Standar Sədom Tiberias Səḏôm, Bahasa Yunani: Σόδομα Sódoma) yang berarti hancur dan Amora (bahasa Arab: عمورة ʿAmūrah, bahasa Ibrani: עֲמוֹרָה, Standar ʿAmora Tiberias Ġəmôrāh Ămôrāh, bahasa Yunani: Γόμορρα Gómorra) atauGomora (bahasa Ibrani: עֲמוֹרָה, Standar ʿAmora Tiberias Ġəmôrāh/ʿĂmôrāh), dan bahasa Inggris Gomorrah yang berarti ditenggelamkan (Artinya, nama Sodom dan Gomorahh diberikan setelah terjadi. Atau mungkin perspektif kata "Fahisyah" dalam Qur'an yang seringkali digunakan untuk menjustifikasi LGBT.

Namun, kami paham sekali bahwa seringkali retafsir ayat akan jauh lebih menjadi perdebatan yang tidak berkesudahan karena bagi mereka yang konservatif akan tetap memandang LGBT sebagai pendosa dan akan sangat sulit untuk merubah dan mentransformasikan tafsir-tafsir yang dianggap "Menyimpang" oleh mereka yang konservatif tanpa melakukan kajian mendalam tentang ayat-ayat tersebut. Tetapi setidaknya, kita bisa sedikit memulai dari satu pertanyaan analisis "Apakah memang  'Luth' (atau Lot) mengkisahkan tentang homoseksualitas"?, jika memang iya, "Apakah mungkin bahwa seluruh kota adalah Gay dan Lesbian? bahkan sampai ke anak-anaknya?" Tentu semuanya bisa dikaji lebih mendalam asal kita mau membuka diri pada semua informasi baik yang kontra LGBT (Seperti yang jadi pemahaman mayoritas) maupun yang Pro LGBT mengenai perspektif yang lebih membahas kajian yang mendalam tentang ayat-ayat.


Semua Gay itu Feminin dan semua Lesbian itu Maskulin

Jawabanya jelas TIDAK, permasalahanya. Kita masih sering terjebak pada tidak perspektif ketika memandang dunia LGBT. Pertama, bahwa LGBT adalah sebuah perilaku seksual dan itu jelas SALAH karena tidak harus melakukan hubungan seksual dengan jenis kelamin yang sama untuk bisa disebut Gay atau Lesbian. Contoh paling gampang adalah dunia penjara atau mungkin asrama, karena  di penjara sangat minimal interaksi dengan lawan jenis dan sebagaimana pembahasan diatas bahwa seksualitas itu adalah kebutuhan dasar manusia jadi ada satu titik dimana ketika seksualitas itu ditahan maka akan menjadi bom waktu. Masalahnya, jika meledak di sisi yang positif maka akan menjadi positif namun ketika meledak pada sisi negatif maka yang terjadi seperti yang kita sering baca dikoran dan menjadi stereotype terhadap gambaran LGBT. Maka, mereka yang berada di penjara juga demikian, pada satu titik karena tidak ada lawan jenis untuk melakukan pelampiasan hasrat seksual maka sesama penghuni penjaralah yang menjadi lawan mainya. Seringkali juga bersifat patriarkis, relasi kuasa bekerja disana dimana yang dianggap senior akan melakukan kekerasan seksual terhadap juniornya. Tetapi, mereka belum tentu Gay atau Lesbian sehingga ketika keluar dari penjara mereka bisa menjalani kehidupan keheteroseksualannya.

Kedua, seringkali LGBT dikait-kaitkan dengan femininitas lelaki dan maskulinitas perempuan. Jawabannya jelas SALAH, bahkan seringkali sifat femininitas dan maskulinitas tidak terkait dengan interaksi seksual jadi jangan heran jika ada lelaki yang suka di anal oleh waria namun mereka bukanlah Gay. Ketiga, ini yang paling sering juga di cap bahwa LGBT adalah Lifestyle, hedonis, ke-barat-baratan. Tapi jelas, LGBT TIDAK ADA HUBUNGANYA DENGAN SUATU LIFESTYLE Tersendiri, banyak LGBT yang tidak suka minum alkohol, banyak LGBT yang masih beribadah dnegan sangat baik (Bahkan ada pesantren waria kan?), dan banyak juga yang tidak suka dunia gemerlap alias dugem. Bahkan banyak diantara kawan-kawan justru berprestasi di sekolahnya masing-masing atau kampusnya mulai dari aktivis KIR, Debat, PMR bahkan OSIS atau BEM.

LGBT Produk Barat


Jelas ini akan ditolak, kita mengenal Serat Centini yang terdapat cerita tentang Gay Erotisme, kita mengenal Warok dan Gemblak, di Sulawesi bahkan mengenal lima gender, selain lelaki dan perempuan ada Bisu (Pendeta waria) yang sangat dihormati,Calalai dan Calabai. Ada pula Lengger Lanang dimana sang legenda masih hidup sampai sekarang yang memfisualisasi Lengger Lanang sebagai penghubung manusia kepada Tuhan dengan perspektif bahwa ketika ada Lengger (Waria, Leng merujuk pada 'Vagina' dan Jengger yang berarti jakun yang artinya dikira 'Leng' ternyata 'jengger' atau bahasa mudahnya dikira perempuan ternyata lelaki), ada juga pentol korek, dan masih banyak lagi kebudayaan Indonesia yang sangat ramah LGBT. Justru kedatangan kolonial ke Indonesialah yang merusak kebudayaan tersebut karena pada masa itu LGBT dianggap sebagai kriminal sehingga pola hukuman bagi LGBT terbawa hingga saat ini oleh kolonialisme.

Dana dari barat? Kami jelas tertawa jika masih banyak yang berfikiran bahwa keberadaan semua lembaga-lembaga LGBT di Indonesia itu di danai oleh Barat (Dan kami berani menjamin bahwa website yang Anda saksikan inipun hasil dari patungan kawan-kawan komunitas). Bahwa ada beberapa lembaga yang mendapatkan dana funding dari lembaga seperti Ford Foundation,Global Fund untuk isu HIV dan AIDS, dan lain sebagainya. Tapi yakinlah, bahwa keberadaan lembaga LGBT di Indonesia lahir dari kebutuhan komunitas atas kesadaran untuk membentuk kelompok karena memiliki perasaan senasib.

LGBT Menuntut HAM Untuk Pernikahan LGBT


Untuk memahami HAM itu sendiri saja masyarakat masih belum bisa memahami konteks HAM yang diperjuangkan. Apalagi berbicara tentang pernikahan LGBT jelas masih sangat-sangat jauh panggang daripada api sedangkan pernikahan beda agama saja masih menjadi polemik bagi bangsa ini. Terlebih, dengan tekanan lingkungan yang sedemikian kuatnya tentu menjadi sebuah persoalan jika kami tiba-tiba menuntut legalisasi pernikahan LGBT sedangkan untuk terbuka dengan seksualitas masing-masing saja masih menjadi masalah. Dalam istilah LGBT, untuk LGBT Comming In terhadap seksualitasnya, untuk LGBT berdamai dengan seksualitasnya saja masih menghadapi kendala berat jadi jelas tidak mungkin jika tiba-tiba saat ini LGBT meminta legalitas atas pernikahan LGBT. Memahami LGBT saja sudah bikin geger, apalagi jika ditambah dengan I untuk Interseksualitas, Q untuk Queer, Aseksual, Panseksual, dll akan membuan masyarakat makin bingung.

Padahal, yang kita suarakan adalah hal yang di suarakan oleh banyak manusia di Indonesia. Ketika barang-barang kebutuhan pokok meningkat, pangan menjadi sudah karena pertumbuhan penduduk yang naik tajam, pernikahan yang terlalu muda, dan bahkan kekerasan seksual yang terjadi pada anak-anak. Itu semua juga menjadi concern LGBT di Indonesia, LGBT juga menolak kekerasan seksual kepada anak yang dilakukan oleh siapapun.

Tetapi, kita semua juga memiliki Hak untuk Merasa Aman, Hak untuk Dilindungi oleh Negara, Hak atas Akses Layanan Masyarakat yang ramah pada semua masyarakat, Hak atas akses pekerjaan yang ramah pada semuanya, Hak atas pendidikan yang layak pada anak, Jaminan perlindungan bagi setiap warga negara yang hidup di Indonesia. Hak atas Informasi Kesehatan Reproduksi, Hak untuk menentukan pasangan, Hak untuk merencanakan pernikahan, Hak untuk merencanakan anak, dll. Hak yang sama dengan mereka yang menuntut kebebasan berekspresi dan menjalankan keyakinanya dengan mengenakan Jilbab atau pembangunan Gereja.

0 comments :

More on this category »