![]() |
| Peduli Sahabat adalah salah satu lembaga yang mengklaim mampu "Menyembuhkan" |
APA (Asosiasi Psikriatri Amerika) telah mengeluarkan rekomendasi dihentikanya terapi konversi LGBT menjadi Heteroseksual.
Bahkan, lembaga yang melakukan konversi LGBT seperti Exodus yang berbasis Kekristenan sudah dibubarkan dan menyampaikan permohonan maaf kepada LGBT karena telah salah melakukan terapi dengan memaksakan LGBT menjadi heteroseksual.
Landasan mereka yang mereka gunakan jelas adalah dalil-dalil teologi (yang belakangan mulai dilakukan retafsir melalui literatur asli untuk memahami apakah memang LGBT sebagai sebuah pendosa atau bukan), mereka hanya berfikir simpel. Jika belum mengalami interakasi seksualitas dengan sesama jenis tetapi mempunyai hasrat dengan sesama jenis mereka menyebut sebagai Samesex Attraction namun juka sudah berada pada batas melakukan interaksinya sudah bisa dikatakan sebagai LGBT (Dan itu hanya dilakukan dalam sebuah sesi wawancara semata).
Lalu, metoda apa yang dilakukan? Mulai dari proses ibadah, hipnotherapy, bahkan hingga Ruqyah. Ada pula yang melakukan konsep "Denial Reflectiologyst" dengan beberapa metoda, seperti yang diungkapkan seorang Psikolog Muslim yaitu dengan menaruh gambar lelaki lalu pelan-pelan dirumah menjadi wanita. Ada juga yang berdiri di depan kaca setiap hari dan memberi stimulus dengan mengatakan "Saya bukan Gay" atau "Saya Normal" atau "Saya Hetero" secara berulang-ulang.
Berikut adalah tulisan dari blog Ioanes Rachmat tentang bahaya konversi LGBT menjadi Heteroseksual :
Sekarang ini, terutama karena alasan perintah Tuhan dan juga karena tak punya pengetahuan yang benar tentang spektrum orientasi seksual LGBT, banyak pihak dengan paksa meminta kalangan LGBT untuk menjalani terapi “re-orientasi” atau terapi “konversi” atau terapi “penyembuhan” atau terapi“reparasi” untuk mengubah mereka jadi heteroseksual. Seolah bagi mereka, menjadi atau tidak menjadi LGBT itu hanya perkara memindahkan sebuah tuas atau memencet sebuah tombol saja, dari Off ke On atau sebaliknya.
Kalangan yang sedang memaksakan kehendak mereka kepada kelompok minoritas LGBT memandang orientasi seksual LGBT sebagai suatu penyakit yang harus disembuhkan, bahkan sebagai suatu gangguan jiwa, dan juga sebagai kutukan Tuhan seperti dulu orang memandang penyakit kusta. Tak sedikit dari antara mereka bahkan melihat orang LGBT sebagai orang yang sedang kerasukan setan. Mereka melihat manusia normal itu hanya manusia heteroseksual, lelaki dan perempuan, Adam and Eve, bukan Adam and Steve. LGBT kata mereka bukan ciptaan Tuhan meskipun, anehnya, mereka juga keturunan Adam dan Hawa.
Kalangan pembenci LGBT tidak tahu bahwa nyaris semua lembaga kesehatan yang diakui dunia dan nyaris seluruh pakar seksologi yang terkemuka sudah menemukan banyak bukti klinis lintasilmu bahwa LGBT sama normal dan sama sehat dengan orang heteroseksual. LGBT bukan orang sakit. Mereka sehat dan juga sama happy dan sama normal dengan kalangan hetero jika mereka hidup wajar sehari-hari dan tidak dibebani tekanan sosiopsikologis dan berbagai stigma negatif dari masyarakat heteroseksual.
Dalam artikel tersebut di atas, yang memuat banyak info ilmiah penting tentang LGBT, dimuat juga antara lain pernyataan ini:
“Fakta terpenting tentang ‘terapi reparatif’, yang kadang juga disebut sebagai 'terapi konversi', adalah bahwa terapi ini didasarkan pada suatu pemahaman tentang homoseksualitas yang telah ditolak oleh semua profesional utama kesehatan umum dan kesehatan mental. American Academy of Pediatrics, American Counseling Association, American Psychiatric Association, American Psychological Association,National Association of School Psychologists, dan National Association of Social Workers, yang semuanya mencakup lebih dari 477.000 profesional kesehatan umum dan kesehatan mental, bulat berpendapat bahwa homoseksualitas bukan suatu gangguan mental, dan dengan demikian tidak memerlukan suatu ‘penyembuhan’”.Dalam artikel yang sama, kita baca tentang hasil penelitian lapangan yang dilakukan Universitas Negara San Francisco tentang kekuatan mental kalangan LGBT yang tertekan dan ditolak jika dibandingkan kalangan LGBT yang dapat hidup happy dan wajar dan diterima. Ditemukan fakta bahwa“dibandingkan dengan kaum LGBT yang tidak ditolak oleh orangtua dan pengasuh mereka karena mereka memiliki identitas gay atau transgender, orang LGBT yang ditolak dengan kuat memiliki peluang kemungkinan 8 kali lipat untuk bunuh diri, nyaris 6 kali lipat menglami depresi berat, lebih dari3 kali lipat menggunakan obat-obat terlarang, dan lebih dari 3 kali lipat kemungkinan terkena HIV dan STDs.”
Di negeri kita Indonesia, Menko Polhukam Luhut Binsar Panjaitan baru saja, 12 Februari 2016, menyatakan bahwa kaum LGBT ada untuk diayomi dan dilindungi sebagai sesama WNI yang minoritas, bukan untuk dibenci, diusir atau dibunuh./2/
Juga perlu kita ketahui bahwa para pakar kesehatan dan seksologi bangsa kita sendiri, atas nama Depkes RI, di tahun 1993 sudah menyatakan bahwa homoseksualitas bukan suatu penyakit gangguan jiwa.
Tetapi jika ada kalangan yang memandang LGBT sebagai suatu abnormalitas, suatu gangguan jiwa, suatu kutukan Tuhan, saya dorong mereka untuk mendirikan banyak klinik terapi LGBT, jika memang kalangan yang anti-LGBT ini didorong oleh cinta kasih kepada LGBT. Lalu kita wait and see, akan adakah “pasien” yang akan dengan ikhlas, rela dan happy mau datang berobat, gratis sekalipun. Atau semua klinik mereka akhirnya terpaksa ditutup karena tidak ada satu pasien pun yang datang untuk berobat. Alhasil, pihak donor dari Timteng atau dari Amerika pun akan mencak-mencak keki banget setelah gagal ubek-ubek NKRI.
Begitu tulisan Bapak Ioanes Rachmat, so...
Masihkah ingin memaksakan orientasi seksualmu agar bisa mengikuti pola struktuur masyarakat? Atau mencoba berdamai dengan seksualitasmu? Jawab sendiri dalam hati. Karena setiap keputusan pasti mengandung resiko yang pada hakikatnya sama besarnya.
Sumber
Notes
/1/ Lihat artikel rujukan “The Lies and Dangers of Efforts to Change Sexual Orientation or Gender Identity”, Human Rights Campaign, pada http://www.hrc.org/resources/the-lies-and-dangers-of-reparative-therapy.
/2/ Lihat Stefanus Yugo, “Luhut: LGBT Punya Hak, Harus Dilindungi”, RimaNews, 12 Februari 2016, pada http://nasional.rimanews.com/keamanan/read/20160212/261397/Luhut-LGBT-Punya-Hak-Harus-Dilindungi





0 comments :
Post a Comment