Menu

More on this category »

Saturday, 26 March 2016

Tips Pelangi : Pelajari Gender dan Seksualitasmu Yuk (Part 2 : Apa Sey Seksualitas?)



Pride Indonesia - Setelah kita belajar tentang pemahaman dasar Gender dan Seksualitas, saatnya kita memahami apa sey Seksualitas? Trus apa bedanya dengan perilaku seksual?. Kalau kamu belum baca pada seri pertama dari Kelas Gender dan Seksualitas, silahkan klik disini yah.

Sebelum dimulai, sebagaimana telah disampaikan sebelumnya "Sex Body" itu adalah ciri-ciri yang biasanya kita kenal dalam tubuh kita dan biasanya dijadikan identifikasi sebagai "Lelaki" dan "Perempuan". Selama ini, kita seringkali hanya mengenal dua jenis kelamin yaitu lelaki yang memiliki penis, jakun, dan lain sebagainya. Sedangkan perempuan memiliki rahim, vagina, dan payudara yang tumbuh. Tetapi, sebenarnya kita mengenal satu "Sex Body" yang lainya yaitu Intersex yaitu seseorang yang memiliki dua kelamin lelaki dan perempuan dalam satu tubuh. Konsepnya banyak, bisa penis dan vagina di bawah atau diatasnya, atau mungkin hanya mampu dilihat dari kromosomnya tetapi tubuhnya seperti tidak ada masalah secara kasat mata.

Jadi, Seks adalah perbedaan badani atau biologis perempuan dan laki-laki, yang sering disebut jenis kelamin (Ing: sex). Sedangkan seksualitas menyangkut berbagai dimensi yang sangat luas, yaitu dimensi biologis, sosial, psikologis, dan kultural. Ibaratnya, saat kecil seorang perempuan memilih boneka atau menggunakan gincu mamahnya semua berjalan secara alamiah. Sifat "Keinginan" itu muncul secara natural atas dorongan anak sendiri.

Seksualitas dari dimensi psikologis erat kaitannya dengan bagaimana menjalankan fungsi sebagai makhluk seksual, identitas peran atau jenis, serta bagaimana dinamika aspek-aspek psikologis (kognisi, emosi, motivasi, perilaku) terhadap seksualitas itu sendiri.

Dari dimensi sosial, seksualitas dilihat pada bagaimana seksualitas muncul dalam hubungan antar manusia, bagaimana pengaruh lingkungan dalam membentuk pandangan tentang seksualitas yang akhirnya membentuk perilaku seksual.

Dimensi kultural menunjukkan perilaku seks menjadi bagian dari budaya yang ada di masyarakat.




Apa itu Dorongan Seksual?
Dorongan seksual adalah keinginan untuk mendapatkan kepuasan secara seksual yang diperoleh dengan perilaku seksual. Hal yang wajar pada remaja muncul dorongan seksual karena ketika memasuki usia pubertas, dorongan seksual akan muncul dalam diri seseorang.

Saat puber, organ-organ reproduksi sudah mulai berfungsi, hormon-hormon seksualnya juga mulai berfungsi. Hormon-hormon inilah yang menyebabkan munculnya dorongan seksual, yaitu hormon esterogen dan progesteron pada perempuan, serta hormon testosteron pada laki-laki. Hal yang perlu diperhatikan adalah ketika dorongan seksual muncul tidak diimbangi dengan pemahaman terhadap hal-hal yang berkaitan dengan perilaku seksual.

Tidak ada perbedaan antara dorongan seksual yang dimiliki laki-laki dan perempuan. Tidak ada yang lebih tinggi. Walaupun di masyarakat muncul kepercayaan bahwa dorongan seksual pada laki-laki lebih besar dibandingkan perempuan, hal tersebut sebetulnya disebabkan oleh budaya yang mengijinkan laki-laki untuk lebih ekspresif (termasuk dalam hal seksualitas), sementara perempuan dilarang untuk menunjukkan ketertarikan seksualnya di depan banyak orang.

Apa itu Perilaku Seksual?
Perilaku seksual seringkali dimaknai salah oleh banyak orang dengan hubungan seksual. Perilaku seksual ditanggapi sebagai sesuatu hal yang melulu “negatif”. Padahal tidak demikian halnya. Perilaku seksual merupakan perilaku yang didasari oleh dorongan seksual atau kegiatan untuk mendapatkan kesenangan organ seksual melalui berbagai perilaku. Perilaku seksual tersebut sangat luas sifatnya, mulai dari berdandan, mejeng, ngerling, merayu, menggoda hingga aktifitas dan hubungan seksual.

Hubungan seksual adalah kontak seksual yang dilakukan berpasangan dengan lawan jenis atau sesama jenis. Contohnya: pegangan tangan, cium kering, cium basah, petting, intercourse dan lain-lain. 
L”Engle et.al. (2005) dalam Tjiptanigrum, (2009) mengatakan bahwa perilaku seksual ringan mencakup : 1) menaksir; 2) pergi berkencan, 3) mengkhayal, 4) berpegangan tangan, 5) berciuman ringan (kening, pipi), 6) saling memeluk,sedangkan yang termasuk kategori berat adalah : 1) Berciuman bibir/mulut dan lidah, 2) meraba dan mencium bagian bagian sensitive seperti payudara, alat kelamin, 3) menempelkan alat kelamin, 4) oral seks, 5) berhubungan seksual (senggama).

Trus, Apa Itu Orientasi Seksual?

Kalau yang satu ini mungkin sudah cukup familiar ya. Orientasi seksual mengacu pada jenis kelamin mana seseorang tertarik secara emosional dan seksual. Ketertarikan ini bersifat tidak kasat mata. Artinya, hanya orang itu sendiri yang bisa merasakan kepada siapa dia lebih tertarik. Kategori-kategori ini meliputi ketertarikan pada jenis kelamin yang sama (homoseksual), pada lawan jenis (heteroseksual), keduanya (biseksual), dan tidak pada keduanya (aseksual). Sampai sekarang tidak ada yang mengetahui secara pasti faktor-faktor yang menyebabkan homoseksualitas, heteroseksualitas, maupun biseksualitas.

Heteroseksual adalah kategori dengan jumlah paling banyak. Karena sifatnya yang mendominasi, kebanyakan orang berasumsi bahwa setiap orang adalah heteroseksual. Jantan (laki-laki) hanya dan akan hanya tertarik pada betina (perempuan). Asumsi ini menyebabkan kategori lainnya, seperti homoseksual, biseksual dan aseksual, dianggap tidak normal. 

Padahal, pada 1973, American Psychiatric Association menyatakan bahwa homoseksualitas bukanlah gangguan mental. Oleh karena itu, homoseksualitas telah  dikeluarkan dari daftar gangguan jiwa dalam DSM. Dua tahun kemudian, 1975, American Psychological Association menyetujui bahwa orientasi seksual sesama jenis tidak berdampak pada kerusakan mental. Pada 1993, WHO mengeluarkan homoseksualitas dari daftar International Classification of Diseases atau ICD. 

Di Indonesia, pada 1983, Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ-II), acuan psikolog dan psikiater di Indonesia, juga tidak lagi mencantumkan homoseksual sebagai gangguan jiwa, dengan mengacu DSM-III. Masih beranggapan kalau homoseksual itu gangguan jiwa? Perilaku Seks Menyimpang? atau "Sakit"? Kayaknya musti membaca Surat Pernyataan Asosiasi Psikiatri Amerika Terhadap Statmen Asosiasi Psikiatri Indonesia Tentang LGBT.

Identitas Gender itu apa?Identitas gender dapat diartikan sebagai cara seseorang merasa atau melihat dirinya, apakah sebagai perempuan, laki-laki, atau transgender. Kebanyakan orang merasa atau melihat dirinya sesuai dengan seks biologisnya. Hal ini terlihat misalnya ketika seseorang merasa dirinya perempuan karena punya vagina dan rahim, atau merasa dirinya seorang laki-laki karena memiliki penis dan testis. 

Namun, ada juga orang yang merasa identitas gendernya tidak sesuai dengan seks biologisnya. Hal inilah yang kemudian dikenal dengan istilah transgender. Di Indonesia, kita mengenal istilah waria atau Priawan, istilah kerenya Transwomen dan Transmen.

Kalo Ekspresi Gender?
Ekspresi gender dapat diartikan sebagai cara mengaktualisasikan gendernya dalam budaya tertentu, misalnya dalam hal pakaian, pola komunikasi dan ketertarikan. Ekspresi gender seseorang bisa saja tidak konsisten dengan peran gender secara sosial dan mungkin juga tidak mencerminkan identitas gendernya. Betul! Ekspresi gender menyangkut masalah kemaskulinan dan kefemininan. Nilai-nilai maskulin dan feminin ini ditentukan oleh budaya, tapi prosesnya sendiri bisa jadi sangat subjektif. 

Nah, yang wajib diketahui adalah bahwa Identitas Gender, Seks Biologis (Seks Body), dan Identitas Gender itu seringkali tidak sama dengan orientasi seksual/ Bisa aja dia lelaki tetapi identitas gendernya perempuan dan atau berekspresi gender feminin tetapi dia berorientasi kepada perempuan misalnya atau mungkin bisa sebaliknya. Jadi jangan heran kalau ada Waria, transwomen yang jatuh cinta dengan perempuan atau transman atau priawan yang jatuh hati dengan lelaki. Nah soal identitas gender, itu kadang tergantung subyektifitas masing-masing. Beberapa tetap menyebutnya heteroseksual namun banyak juga yang menyebut mereka Gay atau Lesbian.

Tar, kita akan belajar tentang "Lalu, gimana sih kita akan bersikap dengan diri kita? Apakah kita akan menikahi lawan jenis atau bagaimana? Next : "Berdamai dengan Seksualitas"

Jangan lupa kalau pengen berdiskusi bisa kirim email ke sobatsemarang@gmail.com.

0 comments :

More on this category »