Pride Indonesia - Kamu pasti berfikir sulit memahami tentang seksualitasmu. Disatu sisi kamu mempunyai perasaan dan rasa cinta pada seseorang tetapi dianggep salah oleh masyarakat bahkan sering banget pake bawa-bawa agama. Sebelum kamu membaca seluruh tulisan ini. Sebaiknya mulai merenungkan tentang dirimu dulu.
Tubuhmu itu sebenarnya mengalir deras Afeksi, psikologi, Intelegensia,Kognitif dan itu mengalir semuanya dalam logikamu. Afeksi berkaitan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, dan nilai saat kamu memandang sebuah masalah. Ranah afektif menjadi lebih rinci lagi ke dalam lima jenjang, yaitu: Receiving atau attending ( menerima atua memperhatikan), Responding (menanggapi) mengandung arti “adanya partisipasi aktif”, Valuing (menilai atau menghargai).
Tetapi, konsep Afeksi itu juga dilingkupi oleh kognitif atau intelegensi kita terhadap sebuah permasalahan. Kognitif sendiri merupakan kegiatan mental (otak). Segala upaya yang menyangkut aktivitas otak adalah termasuk dalam ranah kognitif. Gimana sih kita bisa melogika sebuah masalah. Ranah kognitif memiliki enam jenjang atau aspek, yaitu Pengetahuan/hafalan/ingatan (knowledge), Pemahaman (comprehension), Penerapan (application), Analisis (analysis), Sintesis (syntesis), Penilaian/penghargaan/evaluasi (evaluation)
Tujuan aspek kognitif berorientasi pada kemampuan berfikir yang mencakup kemampuan intelektual yang lebih sederhana, yaitu mengingat, sampai pada kemampuan memecahkan masalah biat kita menghubungakan dan menggabungkan beberapa ide, gagasan, metode atau prosedur yang dipelajari untuk memecahkan masalah tersebut. Dengan demikian aspek kognitif adalah subtaksonomi yang mengungkapkan tentang kegiatan mental yang sering berawal dari tingkat pengetahuan sampai ke tingkat yang paling tinggi yaitu evaluasi dan merenungkan diri kita sendiri.
![]() |
| Disaimpaikan saat Materi Otoritas Tubuh |
Nah, dari logika kita dan afeksi kita itu kita berkaitan dalam memandang masalah kita itu sendiri. Tubuh merepon hasil dari pemikiran logika dan afeksi kita untuk menjadikan psikomotor kita merupakan mengaktualisasikan dan mengekspresikan diri kita dan berkaitan dengan keterampilan (skill) tau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu. Hasil belajar psikomotor ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari hasil belajar kognitif (memahami sesuatu) dan dan hasil belajar afektif (yang baru tampak dalam bentuk kecenderungan-kecenderungan berperilaku). Ranah psikomotor adalah berhubungan dengan aktivitas fisik, misalnya lari, melompat, melukis, menari, memukul, dan sebagainya. Termasuk bagaimana kita mengekspresikan seksualitas kita.
Persoalanya, (Lihat gambar yah...) Semua proses berfikir dan bagaimana kita mengekspresikan dan megaktualisasikan diri kita itu dipengaruhi dan dibelenggu oleh banyak sekali aspek di sekeliling kita, mulai dari cara berfikir kita tentang Agama, Tingkat ekonomi, budaya yang melingkupinya, interaksi sosial kita hingga aspek politik yang mengikat kita. Pengaruh itu bisa terjadi mulai dari Keluarga, Masyarakat hingga negara.
Trus, apa itu Gender dan Seksualitas. OK, sebelum kesana. Kita pasti pernah berfikir bahwa apa yang kita rasain itu "Aneh", gak wajar, bahkan menganggap apa yang terjadi pada diri kita itu tidak alamiah, berdosa, merasa bersalah hingga pada akhrinya beberapa diantara kita pernah mencoba melakukan percobaan bunuh diri. Itu karena mindset yang selalu kita terima selama ini. Kita selalu dibatasi oleh batasan tegas tentang kriteria
laki-laki dan perempuan. Secara fisik, lelaki itu "Seharusnya" memiliki penis, tidak memiliki payudara yang membesar, dan tidak mememiliki rahim. Perempuan itu seharusnya memiliki rahim, vagina, dan memiliki payudara dan aspek itulah yang disebut dengan "Sex" atau "Sex Body".
Lalu, mulai melabeli kita dengan "Apa yang seharusnya di laki-laki" dan "Bagaimana seharusnya perempuan". Lelaki seharusnya tampil maskulin (macho),memandang dirinya sebagai
lelaki (jantan), dan tertarik kepada perempuan,
supaya kelak bisa menikah dan memiliki keturunan, memimpin rumah tangga, bekerja dan semua aspek maskulinitas. Perempuan tampil feminin, memandang dirinya sebagai perempuan,
dan tertarik kepada lelaki. hamil, melahirkan, membesarkan anak dan semua "label" yang diberikan pada perempuan yang diidentifikasi sebagai "Feminin". Itu yang sering dikenal dengan istilah Gender yaitu perbedaan psikologis, sosial dan budaya antara laki – laki dan perempuan, maka ahli lain menekankan pada perbedaan yang dikonstruksikan secara sosial (moored
an Sinclair, 1995), perbedaan budaya, perilaku kegiatan sikap (Macionis, 1996), perbedaan perilaku (Horton dan Hunt,
1984 : 152). Jadi, Gender itu sesuatu yang di konstuksikan secara sosial di masyarakat.
Kajian menemukan bahwa pola yang selama ini ditanamkan di masyarakat tidak dapat mencerminkan
realita hidup manusia. Lebih tepat
disebut dengan pola spektrum, yang
menunjukkan adanya gradasi atau diversitas/keberagaman antara laki-laki dan
perempuan. Bisa jadi tubuhnya Maskulin, tetapi otaknya feminin dan lain sebagainya.
![]() |
| Keragaman seksualitas manusia dimana biru adalah Maskulin dan Pink adalah feminin |
Dewasa ini orang memakai genderbread
person untuk menjelaskan peta gender dan seksualitas. Disitu gender dan
seksualitas dikategorikan menurut 4 aspek.
- Jenis Kelamin (biological sex), dimana secara biologis ada orang yang berjenis kelamin laki-laki (male), perempuan (female), dan diantaranya (intersex).
- Orientasi seksual (sexual orientation) . Ini berbicara soal hati atau orientasi seks: kepada siapa saya tertarik secara seksual? Ada yang tertarik kepada sesama jenis (homoseksual), lawan jenis (heteroseksual), atau kedua jenis (biseksual).
- Identitas gender (gender identity). Ini menyangkut konsep diri (cara pandang/berpikir): siapakah saya dalam soal gender. Ada orang yang memandang dirinya sebagai perempuan (woman),lelaki (man), atau gender-queer (bukan keduanya atau kombinasi keduanya).
- Ekspresi gender (gender expression): bagaimana orang itu menampilkan atau mengekspresikan diri: apakah feminin, maskulin, atau androgynous (kombinasi keduanya).
Persoalanya : Apakah Seksualitas bisa "Dipaksa" untuk sesuai dengan kontrusksi masyarakat? Jawabnya BISA. Tetapi apakah orientasinya berubah? Jawabanya TIDAK. Seksualitas itu bagian dari kebutuhan dasar manusia. Bisa saja itu ditekan namun pertanyaanya MAU SAMPAI KAPAN? Karena itu akan menjadi bom waktu bagi seseorang. Fatalnya, ledakan bom waktu itu seringkali meledak di sisi yang negatif dan itu jadi sorotan di masyarakat lalu mempengaruhi cara berfikir kita tentang seksualitas kita.
![]() |
| Teori Kebutuhan Dasar Manusia Menurut Maslow |
Trus gimana sey perkembangan gender dan seksualitas menurut Psikologi dan Psikiatri? Apakah benar bahwa tidak ada binatang yang homoseksual karena banyak yang mengklaim bahwa homoseksual jauh lebih buruk dibanding binatang? Apakah di budaya kita mengenal keragaman gender dan seksualitas? Trus gimana sey sejarah perkembangan pengetahuan tentang Gender dan Seksualitas? Kita akan bahas pada artikel berikutnya.
Kalau kamu ingin bertanya dan sharing tentang gender dan seksualitas bisa dilayangkan secara langsung melalui email sobatsemarang@gmail.com dengan subject : [Sharing]





0 comments :
Post a Comment