Menu

More on this category »

Thursday, 5 May 2016

Menjadi Muslim dan Gay yang Terbuka


Pride Indonesia - Mungkinkah menjadi seorang muslim yang baik sekaligus membawa identitas seksual sebagai Gay? Pertanyaan in seringkali muncul dalam benak mereka yang Muslim sekaligus LGBT terutama di negara dengan mayoritas Muslim seperti di Indonesia.

Seksualitas manusia tidak berbanding lurus dengan relijiusitas seseorang, Bagaimana dia meyakini tentang keberadaan Tuhan dan menjalankan ritual tidak menghapus seksualitasnya. Seksualitas akan tetap tereksplorasi sebagaimana maslow mengungkapkan bahwa seksualitas itu menjadi bagian dari kebutuhan dasar manusia.

Sebuah kisah disampaikan oleh Michael Sinan melalui GSN, seorang Muslim dan juga pemenang dari Mr Gay Denmark 2012, finalis dari Mr Gay Eropa dan Mr Gay World pada tahun 2013 kemarin. Menyandang status sebagai seorang Muslim dan Gay serta mengikuti ajang Mr Gay Eropa dan Mr Gay World  telah memunculkan banyak reaksi yang berbeda. Selain berhasil memenangkan gelar Mr Congeniality dalam Mr Gay Eropa dan 'hadiah sebagai aktivis' di Jerman pada tahun 2013.

Sementara orang-orang sekarang sangat menyadari keberadaan komunitas Gay yang beragama Kristen dan Yahudi, isu mengenai Gay Muslim masih menjadi ruang tertutup bagi banyak orang. Menjadi sebuah perbincangan yang sangat tabu namun mendapat perhatian banyak dalam pers dan pilitisi di Denmark dan juga dalam program Studi Gay DR3 yang diikuti melalui kompetisi Mr. Gay, dan terfokus pada 'kehidupan Muslim'nya, dan bagaimana saya hidup sebagai minoritas dalam minoritas.

Namun akhirnya mendapat reaksi seperti yang telah dipikirkan sebelumnya, konsekuensi besar bagi seorang Michael Sinan untuk terbuka sebagai Gay Muslim dan tentunya mengikuti kompetisi bertaraf internasional dengan membawa dua identitas sebagai Muslim dan Sebagai Gay keduanya saling mengikat dan tidak terpisahkan.

Berita tentang Michael Sinan akhrinya menjadi berita viral di Facebook, dengan ribuan komentar. Suaminya dan dirinya menjadi sasaran komentar penuh kebencian.

Media di Denmark lebih tertarik pada kisah pribadi Michael. Ketika orang berkomentar tentang hal-hal tercela kepada Michael dan suami, media tidak peduli tentang bagaimana menghapus komentar yang benar-benar menyinggung dirinya dibanding berita kisah pribadinya yang menjadi viral saat itu.

Michael mendapatkan tiga ancaman pembunuhan, yang dilaporkan ke polisi.

Meskipun memiliki nama-nama dari tiga orang yang telah mengirim ancaman pembunuhan dan juga tahu di mana mereka bekerja. Polisi tidak melakukan apa pun. Komentar diterima dari pihak polisi, itu 'Itu adalah kisah yang baik bahwa seseorang sedang berjuang dan menunjukkan jalan bagi orang lain bahwa dirinya bisa dalam situasi yang sama. "

Mobilnya menjadi korban vandalisme, tergores di sekitarnya, dan kata 'Homo' tertulis di atasnya. Sedangkan asuransi tidak menutupi semua biaya yang diperkirakan € 5000 ($ 5600).

Selain itu pihak keluarga juga khawatir, frustrasi dan sangat marah. Mereka membuat keputusan sangat jelas bahwa Michael harus berhenti berpartisipasi dalam wawancara atau program apapun, karena berpengaruh secara langsung terhadap keselamatannya sendiri.

Terlepas dari kenyataan bahwa media gay seperti Out & Danish dan surat kabar Denmark Politiken menulis tentang beberapa kejahatan atas kebencian yang telah dialami, michael merasa belum didukung oleh organisasi LGBT. Meskipun orang mungkin berpikir bahwa Denmark adalah negara yang sangat liberal, kita masih memiliki jalan panjang untuk perjuangan ini.

Sisi positif terbuka tentang identitas Muslim juga membuat michael diterima dan dimasukkan dalam banyak komunitas Muslim, yang tentu saja membuatnya bangga. Sayangnya ini mengakibatkan orang LGBT (di sini dengan latar belakang Muslim) masih memberikan komentar yang sangat ofensif karena banyak dari mereka telah meninggalkan Islam, dan kemudian mengakibatkan munculnya Islamophobia secara alamiah. Michael menceritakan sampai pada kesimpulan bahwa harga dari perjuangan dia sebagai Gay dan Muslim terlalu tinggi. Hingga akhrinya harus berpikir tentang keluarga dan apakah ini baik dilakukan untuk mereka.

Michael sendiri mengungkapkan akan masih mendukung organisasi LGBT terlepas dari semua persoalan yang telah terjadi selama ini.

Tapi suka ataupun tidak dengan kedua identitas itu. Kita harus siap untuk terus mendukung dan membuka mata pada fakta bahwa Gay Muslim ada. Kesadaran ini sangat dibutuhkan untuk membuka mata, hati dan pikiran kita kepada kelompok-kelompok minoritas yang di"minoritaskan" oleh kelompoknya sendiri dalam perspektif dua identitas yang akan selalu melekat bukan sekadar Gay dan Muslim namun juga identitas sebagai Gay dan Difable.

Michael telah memiliki berkomunikasi aktif dengan Bijat Abdellah, yang akan menjadi juga peserta Muslim dalam kompetisi Mr Gay Eropa. Tentu saja dia harus memiliki banyak sekali dukungan, dan tahu bahwa setiap muslim akan senang selalu tersedia ruang bantuan saat diperlukan dan dubutuhkan. Michael mendapat kesan bahwa Bijat sudah akan melalui hal yang sama seperti yang michael alami.

Michael Sinan adalah pemenang Mr Gay Denmark pada 2012 dan kontestan dari Mr Gay World 2013.

0 comments :

More on this category »