Menu

More on this category »

Wednesday, 18 November 2015

Surat Terbuka Kepada Rektor Universitas Diponegoro

Pride Indonesia - Sebanyak 104 Alumni Universitas Diponegoro dari berbagai kota membuat fanpage dan menuliskan Surat Terbuka kepada Rektor UNDIP sebagai bentuk perlawanan terhadap pembatalan Diskusi tentang LGBT yang diadakan oleh Pers Mahasiswa Fakultas Hukum dan bunyi dari Surat Terbuka tersebut sebagai berikut.

 "Adalah hak setiap orang untuk mendukung atapun menolak LGBT, tapi melarang mahasiswa mengadakan forum diskusi terbuka di kampusnya sendiri sungguhlah perbuatan inkonstitusional."
Rektor UNDIP yang kami banggakan, Saudara Yos Johan Utama
Dengan hormat,
Kami dibesarkan dalam tradisi akademik yang
menjunjung tinggi kebebasan berserikat, berpendapat dan berekspresi di bawah atap Kampus Pleburan. Kami percaya bahwa Perguruan Tinggi berperan strategis dalam menghasilkan intelektual, ilmuan dan atau profesional yang inovatif, responsif, kreatif, terampil dan yang paling penting berkarakter dalam mengimplementasikan Tridharma perguruan tinggi.
Kami masih ingat pada orientasi kemahasiswaan belasan bahkan puluhan tahun lalu, bahwa Universitas Diponegoro meyakini sampai batas yang sejauh-jauhnya bahwa fungsi paling mulia dari keberadaannya adalah untuk: mencari, menemukan, menyebarluaskan dan menjunjung tinggi kebenaran yang berlandaskan pada Kebebasan akademik dan non akademik yang bebas dari segala bentuk tekanan politik dan ekonomi di luar sana.
Dengan pemahaman tersebut, kami sampaikan kekecewaan kami atas pelarangan yang dikeluarkan oleh pihak kampus terkait rencana pelaksanaan diskusi dengan tema "LGBT dalam Sosial Masyarakat Indonesia” yang diadakan oleh LPM Gema Keadilan.
Terlepas dari tema diskusi yang dianggap merupakan isu sensitif, pada prinsipnya kami tidak sependapat dengan perkembangan di Kampus dewasa ini: yang membatasi kebebasan berserikat, berkumpul dan berdiskusi.
Dengan sikap seperti itu, kampus kenyataannya malah tengah berjalan menjauh dari esensi keberadaan institusi yang sangat kami cintai. Kami berpendapat bahwa Kampus seharusnya adalah wilayah aman untuk bersemainya pemikir-pemikir bebas dari proses dialektika pencerahan yang bertanggungjawab.
Kami harap, Kampus Universitas Diponegoro kembali pada esensinya sebagai salah satu Universitas terbaik di Indonesia yang mendukung berbagai kegiatan mahasiswa yg berkenaan dengan kegiatan diskusi ilmiah dan kebebasan berpendapat dilingkungan kampus.
Salam Pembebasan.

0 comments :

More on this category »