Pride Indonesia - Sebanyak 104 Alumni Universitas Diponegoro dari berbagai kota membuat fanpage dan menuliskan Surat Terbuka kepada Rektor UNDIP sebagai bentuk perlawanan terhadap pembatalan Diskusi tentang LGBT yang diadakan oleh Pers Mahasiswa Fakultas Hukum dan bunyi dari Surat Terbuka tersebut sebagai berikut.
"Adalah hak
setiap orang untuk mendukung atapun menolak LGBT, tapi melarang
mahasiswa mengadakan forum diskusi terbuka di kampusnya sendiri
sungguhlah perbuatan inkonstitusional."
Rektor UNDIP yang kami banggakan, Saudara Yos Johan Utama
Dengan hormat,
Kami dibesarkan dalam tradisi akademik yang
menjunjung tinggi kebebasan berserikat, berpendapat dan berekspresi di
bawah atap Kampus Pleburan. Kami percaya bahwa Perguruan Tinggi berperan
strategis dalam menghasilkan intelektual, ilmuan dan atau profesional
yang inovatif, responsif, kreatif, terampil dan yang paling penting
berkarakter dalam mengimplementasikan Tridharma perguruan tinggi.
Kami masih ingat pada orientasi kemahasiswaan belasan bahkan puluhan
tahun lalu, bahwa Universitas Diponegoro meyakini sampai batas yang
sejauh-jauhnya bahwa fungsi paling mulia dari keberadaannya adalah
untuk: mencari, menemukan, menyebarluaskan dan menjunjung tinggi
kebenaran yang berlandaskan pada Kebebasan akademik dan non akademik
yang bebas dari segala bentuk tekanan politik dan ekonomi di luar sana.
Dengan pemahaman tersebut, kami sampaikan kekecewaan kami atas
pelarangan yang dikeluarkan oleh pihak kampus terkait rencana
pelaksanaan diskusi dengan tema "LGBT dalam Sosial Masyarakat Indonesia”
yang diadakan oleh LPM Gema Keadilan.
Terlepas dari tema diskusi
yang dianggap merupakan isu sensitif, pada prinsipnya kami tidak
sependapat dengan perkembangan di Kampus dewasa ini: yang membatasi
kebebasan berserikat, berkumpul dan berdiskusi.
Dengan sikap
seperti itu, kampus kenyataannya malah tengah berjalan menjauh dari
esensi keberadaan institusi yang sangat kami cintai. Kami berpendapat
bahwa Kampus seharusnya adalah wilayah aman untuk bersemainya
pemikir-pemikir bebas dari proses dialektika pencerahan yang
bertanggungjawab.
Kami harap, Kampus Universitas Diponegoro
kembali pada esensinya sebagai salah satu Universitas terbaik di
Indonesia yang mendukung berbagai kegiatan mahasiswa yg berkenaan dengan
kegiatan diskusi ilmiah dan kebebasan berpendapat dilingkungan kampus.
Salam Pembebasan.

0 comments :
Post a Comment