Menu

More on this category »

Tuesday, 26 January 2016

Surat Cinta dari Warga LGBT : Sebuah Surat untuk Presiden

Sumber : http://www.qureta.com/post/surat-cinta-dari-warga-lgbt
 :Berikut Surat Terbuka seorang Sobat Pelangi Lini Zurlia yang dituliskan secara langsung kepada Presiden Republik Indonesia Bp Ir Joko Widodo yang ditayangkan pada 25 Januari 2015 di disini.

Dear Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo
Dear Masyarakat Indonesia baik yang terbuka pada keberagaman maupun yang punya kebencian pada kami,
Kami terlahir dengan orientasi seksual yang berbeda, berbeda dengan kebanyakan orang lain tentunya. Kami berbeda sebab kami tidak menjadi heteroseksual yang dapat mencintai, mengasihi serta tertarik pada lawan jenis. Kami menjadi lesbian, gay dan biseksual yang dapat tertarik dengan kedua-nya.
Diantara kami juga terlahir dengan jenis ekspresi gender dan identitas seksual yang berbeda dengan kebanyakan. Ada diantara kami yang trans-perempuan atau pemerintah menamainya sebagai (Waria), ada juga yang trans laki-laki atau mulai dikenal dengan sebutan transmen atau priawan.
Dear bapak presiden dan masyarakat Indonesia,
Kami meski berbeda tapi kami ada. Kami tidak pernah berpesan untuk tidak menjadi heteroseksual saat kami dalam kandungan, kami juga tidak berpesan untuk menjadi warga Negara Indonesia sesaat sebelum kami brojol ke negeri ini. Kami ada meski kami berbeda.
Dear bapak presiden,
Tahukah bapak, bahwa keberadaan kami di negeri ini sebanyak 89,3% di antaranya pernah mengalami kekerasan. Baik sosial maupun struktural. Berhenti atau diberhentikan dari sekolah, dari perguruan tinggi, ancaman dipecat menjadi guru atau menjadi dosen, dipecat atau dirumahkan dari tempat bekerja sebab ekpsresi yang berbeda, sebab orientasi seksual yang berbeda.
Dear bapak presiden,
Teman waria kami banyak yang dibunuh atau terbunuh sebab dikejar & ditembak oleh Satuan Polisi Pamong Praja saat menjalankan profesi mereka sebagai pekerja seks di pangkalan untuk bertahan hidup sebab Negara tidak memberikan pilihan lain pada mereka untuk bertahan hidup. Kemudian kasusnya menguap begitu saja tanpa kejelasan. Teman waria kami dibunuh atau terbunuh ditikam oleh orang tak dikenal, sebab kebencian yang mendalam karena mereka memiliki ekspresi gender yang berbeda.
Dear masyarakat Indonesia yang saya tahu hatinya pasti penuh kasih,
Tahukah bapak, ibu, kakak, adik, teman-teman bahwa 76,4% dari kami pernah mengalami kekerasan disebebkan oleh sociological barrier yang menyebabkan kekerasan dalam budaya tumbuh subur. Kami dipaksa menikah, diterapi supaya menjadi heteroseksual, diperkosa agar kembali ke jalan yang dianggap benar, di-bully di sekolah, di lingkungan, bahkan di keluarga.
Kekerasan ini terjadi perlahan tapi pasti membunuh kami. Bila sanggup diam, diantara kami akan memilih untuk merahasiakan, bila melawan mereka akan menjadi pejuang HAM LGBTI, tapi bila mereka tak sanggup bunuh diri adalah pilihan terbaik.
Dear Bapak Presiden Joko Widodo dan wakilnya (yang dari tadi lupa saya sebut, Jusuf Kalla)
Tahukah bapak berdua, bahwa peraturan mentri sosial Republik Indonesia menempatkan kami transgender, lesbian & gay sebagai Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). Pak, kami bukan penyandang masalah sosial, kami juga tidak mengidap penyakit menular, kami pak, kami Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, Intersex adalah manusia yang terlahir di republik ini yang secara otomatis menjadi warga Negara yang memiliki hak yang sama.
Pak presiden dan pak wakil presiden,
Bukankah dalam Undang-undang Dasar 1945 Pasal 28B Ayat 2 disebutkan bahwa ‘ kami yang terlahir di Negeri ini berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.
Bukankah menurut deklarasi Hak Asasi Manusia setiap kita adalah terlahir sama & setara.
Dear Para Allies,
Terimakasih sudah berdiri di samping kami untuk meneguhkan bahwa kami adalah manusia yang sama sekaligus warga Negara yang punya hak yang sama juga.
Dear Human Right Defender,
Jika kalian berjuang dan bergerak atas nama HAM, maka kami ini juga adalah bagian dalam perjuangan tersebut, rangkul kami dan jadilah ally kami.
Dear  Masyarakat Indonesia,
Kalau bapak-ibu menganggap kami berdosa, biarlah kami yang akan mengurus dosa kami pak-bu, tapi jangan benci kami, jangan soraki kami karena berbeda, jangan lecehkan kami, karena kita berbeda tapi tetap sama.
Dear Bapak Presiden,
Jika memang benar bapak adalah presiden dari republik ini, maka tolong cabut Peraturan menteri yang mengganggap kami penyandang masalah, cabut UU yang menganggap kami menyimpang dan berpenyakit yang mengancam bangsa. Lindungi dan penuhi hak kami pak.
Sebab Kami Ada, meski Berbeda.
Sebab kami Manusia sekaligus warga Negara Republik Indonesia.
Hari HAM 10 Desember 2015, Jakarta.
                     ***
Surat ini ditulis saat komunitas LGBTI bersama-sama merayakan peringatan Hari HAM yang tergabung dalam Koalisi Peringatan Hari HAM (KOPERHAM 2015). Surat ini sibacakan dalam aksi kamisan sebagai aksi puncak peringatan Hari HAM.

0 comments :

More on this category »