Menu

More on this category »

Monday, 29 February 2016

Shelter bagi untuk Pengungsi LGBT Suriah Dibuka di Berlin


Pride Indonesia - Kita tahu bahwa konflik Syria telah membuat ribuan penduduknya mengungsi di berbagai negara di Eropa, terlebih dengan adanya ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) yang telah melakukan penghakiman terhadap banyak LGBT di Syria mengakibatkan gelombang pengungsi LGBT ke berbagai negara di Eropa.

Hingga membuat sebuah kelompok Hak LGBT di Jerman membuka shelter baru di Berlin yang diperuntukkan bagi pengungsi gay. Proyek yang dipimpin oleh Schwulenberatung Berlin bekerja sama dengan dewan kota akan membuat tempat tinggal lebih dari 120 orang, menurut laporan euronews.com.


Kelompok di belakang proyek ini mengatakan mereka memutuskan untuk membuka tempat penampungan karena penyalahgunaan migran gay yang telah menderita di asrama yang sama - dengan beberapa orang yang dipaksa untuk pindah. Mereka mendapatkan diskriminasi ganda, dari negaranya yang melakukan penghakiman termasuk dari sesama pengungsi yang mengetahui orientasi seksual mereka.
"Mereka pengungsi seperti pengungsi lain, tetapi mereka juga terisolasi budaya. Dan mereka telah mengalami banyak kekerasan," jelas Stephan Jaekel, kepala departemen pengungsi LGBT Berlin Homoseksual Counsel.
"Dimulai dengan kekerasan psikologis. Dan ia lari dari dari ekspresi verbal penolakan diskriminasi hingga kekerasan fisik seperti tangan yang patah, atau hidung rusak - bahkan beberapa upaya pembunuhan.
Mahmoud Haseeno seorang pengungsi gay berusia 40 tahun dari Suriah - mengungkapkan penampungan baru akan menjadi harapan besar bagi orang LGBT yang telah mengalami pelecehan tersebut. Hassino awalnya tiba di Jerman pada 2014, tetapi harus keluar dari tempat penampungan tak lama kemudian karena dimusihi sesama pengungsi.

Wartawan dari Associated Press menyelidiki  menemukan masalah di sejumlah kasus sama yang didokumentasikan di Jerman, Belanda, Spanyol, Denmark, Swedia dan Finlandia. Kekerasan biasanya datang dari sesama pengungsi, dan kadang-kadang dari staf keamanan dan penerjemah.

AP mengatakan menggambarkan sebagai sebuah bentrokan budaya, karena banyak pendatang berasal dari negara-negara Muslim konservatif di mana homoseksualitas dianggap ilegal.

0 comments :

More on this category »