Menu

More on this category »

Monday, 29 February 2016

Surat Terbuka Untuk Muslimah Bercadar dari Seorang Gay


Assalamu’alaikum ya Ukhti
Terima Kasih atas surat terbuka yang Ukhti Sheren Chamila Fahmi berikan kepada kami dari surat terbuka yang menjadi viral di media sosial bahkan menjadi berita yang ditayangkan di Republika pada 21 Februari 2016. Jujur, ini menjadi sangat menarik bagi saya.
Sebenarnya diawal cerita, saya ingin mengisahkan betapa saya menghormati seorang muslimah bercadar dan bagaimana saya ikut ambil andil dalam memperjuangkan mereka yang bercadar untuk dapat mengakses dunia pendidikan dan tersedianya ruang yang aman dan nyaman bagi semua orang.
Namun, alih-alih saya menceritakan tentang pengalaman saya, saya yakin sebelum surat ini beredar dan menjadi viral. Saya Sudah dibully oleh ratusan orang dan menjadi viral di media  dengan ucapan kebencian yang luar biasa dahsyatnya. Alih-alih saya mencoba memberi tanggapan, yang ada justru keamanan saya yang akan terancam karena surat terbuka ini dan itulah ketakutan terbesar sebagian besar kawan-kawan LGBT di Indonesia saat ini.
Daripada saya menceritakan betapa sulitnya kawan-kawan masih kesulitan dalam mengakses selembar KTP, karena lari dari rumah tanpa membawa surat-surat saat diusir dari rumah atau dikurung bahkan ada seorang kawan yang mengalami kekerasan fisik dari keluarga. Bukan sekadar kain yang dibakar. Saya justru merasa sangat yakin bahwa surat terbuka ini justru akan menjadi viral yang dibenci oleh banyak orang karena pandangan sempit tentang kami yang dianggap berbeda.
Namun, saya mencoba menghormati Surat Terbuka (yang saya anggap itu sebagai Surat Cinta) dari Ukhti kepada kami LGBT dan sekarang, saya merasa punya sedikit suara untuk memberikan tanggapan atas apa yang Ukhti galaukan.
  1. Surat Terbuka dari Muslimah Bercadar untuk LGBT justru membuat saya bersyukur, karena pada akhrinya muncul kesadaran di masyarakat akan hak-hak kelompok minoritas seperti Ukhti. Surat Terbuka Ukhti justru menunjukan betapa negeri ini butuh untuk mulai belajar tentang keberagaman, dan kesetaraan. Kesetaraan untuk mendapatkan hak yang sama sebagai warga Negara, hak untuk diperlakukan yang sama sebagai warga Negara, hak untuk dapat megakses layanan publik tanpa dihakimi oleh yang seharusnya memberikan layanan profesional, tanpa dibedakan, tanpa dipandang sebelah mata, atau bahkan dibully.
  2. Saya merasa ada distorsi pemikiran tentang perspektif HAM yang Ukhti curhatkan, saat mengatakan aktivis HAM yang menyuarakan Islam Nusantara menjadi landasan pemikiran HAM dan disaat yang sama seakan-akan Aktivis HAM membicarakan tentang sesuatu yang didasarkan atas budaya Amerka. Maaf Ukthti, saya kira Ukhti terlalu banyak belajar tentang Idiologi Islam dari kacamata Ukhti. Dibanding belajar tentang kebudayaan di Indonesia justru memiliki kekayaan budaya yang bersahabat dengan LGBT, ada Warok dan Gemblak, ada Lengger Lanang di Banyumas, atau Bissu, Calalai, Calabai, Bura’ne, dan Makkunrai yang ada di Sulawesi Selatan yang dikejar-kejar dan dibunuh oleh DI/TII. Itu bukan budaya Amerika, tetapi budaya Asli Indonesia yang menghargai keberagaman seksualitas di Indonesia jauh sebelum cadar dianggap sebagai idiologi yang wajib diikuti.
  3.  Justifikasi bahwa perempuan dengan selembar kain hitam yang menutupi badan lebih pantas dibela disbanding LGBT rasanya seperti standart ganda yang Ukhti berikan kepada kami seolah-olah Ukthi jauh lebih pantas mendapatkan kemuliaan di dunia disbanding kami, kami yang dianggap nista, kami yang dianggap berbahaya, saya merasa Ukthi telah melakukan perlakuan yang sama dengan orang yang membully Ukhti dengan sebutan teroris,  sama dengan petugas bandara yang memeriksa Ukhti seolah-olah ukhti adalah ancaman karena propaganda atas idiologi yang Ukhti pegang teguh, sama seperti ujaran kebencian “Dasar setan” atau ibu-ibu yang menganggap ukhti sebagai objek yang pantas di takut-takuti oleh anak kecil. Bahkan ujaran yang sekadar bilang “Ninja”, lalu. Pantaskah kami juga memaklumi dan membenarkan perlakuan masyarakat atas tindakan yang mereka berikan kepada Ukhti?
  4. Sekali lagi, saya tidak ingin “Memamerkan” bagaimana perlakuan kelompok-kelompok seperti Ukthi yang menganggap kami jauh lebih nista dari binatang seolah-olah mereka jauh lebih mulia dihadapan Tuhan dibandingkan kami hanya karena tidak mau membuka diri atas perbedaan. Apakah kami protes? Apa yang bisa kami lakukan? Di tengah masyarakat yang panik dan menganggap picik hanya karena kami ingin saling berbagi cerita, melakukan kegiatan positif hanya untuk sekadar di cap lebih baik sedikit saja di masyarakat, ditengah masyarakat yang mengejar-ngejar kami seperti kami ini binatang buruan yang layak untuk dibunuh, layak untuk diinjak-injak, layak untuk tidak dianggap sebagai manusia,yang juga dikorbankan karena politik yang entah apa tujuan akhirnya. Sekadar dianggap sebagai manusia yang sama, seperti yang ukhti juga ingin rasakan.
  5. Ditengah kepungan orang-orang yang menganggap kami nista, yang mengaggap kami berada di luar garis kodrat dan fitrah kami, ditengah segala ketakutan yang menganggap kami menular, mengaggap kami pendosa, menganggap kami lebih hina dibanding binatang, yang memaksakan kami untuk berada pada garis yang sama dengan orang-orang seperti ukhti. Apa yang bisa kami lakukan selain bersembunyi dan makin tertekan oleh keadaan, yang makin terpojokkan, dan betapa banyaknya dari kami yang pada akhirnya ketakutan untuk diketahui identitasnya, tidak bebas untuk  mengekspresikan identitasnya.Sungguh, Ukhti. Sekali lagi harus saya sampaikan bahwa saya merasa bersyukur bahwa ada Surat Terbuka dari seseorang yang juga merasa terdiskriminasi karena memiliki ekspresi yang berbeda, apalagi karena itu dipegang sebagai sebuah kebenaran idiologi yang memang seharusnya dipegang teguh.

Justru saya ingin mengajak Ukthi juga ikut ambil andil dalam memperjuangkan HAM yang memang seharusnya universal, memperjuangkan kesetaraan agar Indonesia benar-benar menjadi Negeri yang Bhineka karena keberagaman adalah kekayaan negeri ini yang harus diperjuangkan bersama. Jika memang Ukthi mau membuka diri dan diberikan hidayah Tuhan, semoga kita diperjodohkan dalam perjuangan yang sama untuk menuntut atas hak kesetaraan sebagai warga Negara yang seharusnya diperlakukan yang sama dan juga hak untuk merasa aman dan nyaman dengan identitasnya.
Saya tidak terlalu yakin Ukthi mau. Tapi tidak apa-apa. Saya pernah membaca sebuah Hadist yang membuat saya berani untuk jujur pada diri sendiri karena apa yang menjadi fitrah kami ini kami anggap sebagai kesempurnaan Ciptaan Tuhan. Hadist tersebut berbunyi “Man 'arofa nafsahu 'arofa Robbahu”. Siapa yang mengenal dirinya maka Ia akan Mengenal Tuhannya (H.R Bukhari Muslim). Semoga kita semua diberi perlindungan. Keberkahan dan keluasan cara berfikir.
Wallahualam Bishawab.

Semarang, 22 Februari 2016
       Oriel Calosa

0 comments :

More on this category »