Menu

More on this category »

Tuesday, 29 March 2016

4 Alasan Sederhana Kenapa Kamu Gak Bahagia Sebagai Gay


Pride Indonesia - Diantara banyak sekali kecaman kepada kami, ada banyak pertanyaan sederhana tentang "Apakah akan bisa bahagia bila menjadi Gay?" atau mungkin "Lalu, bagaimana dengan masa depan kita?". Bahkan pertanyaan seserius "Apakah kita akan terus menjadi Gay?

Ada pertanyaan yang unik datang ke kami "Mas, gimana sih cara menentukan sebuah orientasi seksual?", bagi banyak psikolog dan psikiater, pertanyaan tersebut sebenarnya juga menjadi sebuah misteri yang tidak akan pernah terpecahkan. Jawaban sederhananya, apakah kita bisa mensetting dengan siapa kita jatuh cinta? Dengan siapa kita tertarik (Baik secara romantik maupun seksual) pada seseorang? Jawabanya tentu saja sebenarnya "Semua berjalan secara natural dan alamiah" sejak awal kita mengalami pubertas.

Nah, masalahnya adalah. Karena kita BEDA dengan mainstream tentu menjadi tanda tanya buat kita tentang gimana sih kita memandang tubuh kita? Padahal, pemikiran semacam itu sebenarnya juga sangat alamiah se-alamiah ketika kita melihat orang yang berbeda ras kita trus kita mengamatinya dengan seksama (Contoh yang mudah kalau kita memandang orang Afrika lagi jalan tentu ada sesuatu yang menarik kita untuk bertanya "Orang kok bisa kulitnya hitam gitu yah?" jawabannya tentu saja ya memang mereka dilahirkan seperti itu.

Lalu berkembang pertanyaan-pertanyaan yang selalu menggelanyut dalam diri kita tentang "Trus, gimana yah masa depan kita nanti kalau terus kayak gini (Jadi Gay/Lesbian)". Trus, muncullah pergolakan dalam hidup kita dan logika kita bermain disana. Tahukah kamu? Padahal mereka yang heteropun tidak akan bisa memastikan masa depannya akan seperti apa. Ayah Marshanda contoh paling gampang kan? Beruntung anaknya artis, coba kalo bukan artis yang disorot kamera banyak? Tentu bisa beragam tanggapannya.

So, mari kita analisis. Apa sih yang seringkali membuat hidup kita terasa berat dan kita jadi gak bahagia? Semoga saduran dari huffington.com ini akan membantu kita bagaimana memandang kebahagiaan.

1. Kita terlalu Mendapat banyak Tekanan dari Diri Kita Sendiri.


Kita memang hidup ditengah tekanan yang sangat kuat, atas nama norma bahkan agama seringkali melakukan penghakiman terhadap diri kita, bahkan mereka yang mengatakan "Saya membuka diri terhadap gay" tetapi disisi yang sama dia mengataan "Gay itu penyakit, dan setiap penyakin pasti bisa diobati" lalu mereka lebih menggunakan dalil-dalil untuk memperkuat pemikiranya. 

YAKINLAH, pada hakikatnya. apapun yang kamu perjuangkan pada hakikatnya kamu sedang memperjuangkan kebahagiaan dirimu sendiri. Tidak akan pernah bisa memahami bagaimana perasaanmu kecuali dirimu sendiri bahkan mereka yang memiliki label "Psikolog" atau "Psikiater" sekalipun kecuali memang mereka juga Gay.

Tekanan itu yang sering membuat kita memakai topeng di masyarakat dan kita tidak bisa menjadi diri sendiri dan itu sangat tidak menyenangkan. Kita sering keluar kendali karena kita selalu terkungkung dalam satu kotak kecil, istilahnya... Kita seringkali hidup seperti katak dalam tempurung lalu menilai hidup kita dalam tempurung. Jadi, JUJURLAH pada diri sendiri dan pecahkan tempurungnya, pandanglah dunia yang lebih luas agar kita juga memiliki pola pikir yang berbeda, out of the box kata orang.

Sama sekali tidak ada yang salah dengan menetapkan tujuan untuk diri sendiri, didorong untuk menjadi orang yang berhasil atau ingin berada dalam kondisi tertentu. Tidak ada yang salah jika kamu lebih memutuskan untuk menikah dengan lawan jenis (apalagi kita tau di negeri ini sangat sulit menerima percintaan macam kita). Tetapi carilah alasan yang paling tepat sebelum kita mengukuhkan hubungan di depan penghulu dan berikrar untuk kebahagiaan dengan orang lain dalam satu rumah, dalam satu ranjang. Karena, itu bagian dari cara untuk memahami kebahagiaan kita sendiri tanpa menyakiti orang lain dan keluarga besar mereka. Sebagaimana kalimat sebelumnya, pada hakikatnya kita memperjuangkan kebahagiaan diri kita sendiri jadi tidak ada alasan atas nama tekanan keluarga ataupun lingkungan karena itu adalah hidupmu dan masa depanmu sendiri karena kamulah yang akan menjalani kehidupan dari hasil keputusanmu sendiri.

2. Kita Berada di Kelompok yang Salah.

Teman terbaik pada hakikatnya tidak memandang tentang siapa kita, tetapi melihat bagaimana kita memiliki nilai yang sama dengan mereka. Kalau bahasa kami, kita terlalu sering "Cong-cong"an atau bahasa kerenya terlalu sering hidup dalam hedonis (Walaupun gak semuanya seperti itu). Tetapi, menjadi orang yang hanya hedonis bukan berarti hanya bersenang-senang dan pergi ke diskotik. Tetapi, bahkan ketika kita dianggap sampah oleh orang di sekitar kita atau seperti penyakit menular yang harus disembuhkan. Tentu membuat kita akan semakin tertekan oleh diri kita sendiri.

Yakinlah, mereka, tidak akan pernah diam mengkritik Anda sebelum kami masuk ke dalam liang bumi, menaiki tangga ke langit, dan berpisah dengan mereka. Kalaupun kamu masih berada di tengah-tengah mereka, maka akan selalu ada perbuatan mereka yang membuatmu bersedih dan meneteskan air mata, atau membuat tempat tidurmu selalu terasa gerah.

Kelilingi dirimu dengan inspirasi, orang-orang yang optimis yang memberi membawa sinar matahari ke dalam hidup Anda dan memberi makan jiwa Anda. Juga, mengenali siapa Anda "teman" dan apa peran mereka dalam hidup kamu. Teman yang akan membuatmu lebih kaya informasi, lebih kaya hati dan mengajakmu melakukan hal-hal positif bersama-sama, saling mendewasakan dan saling mampu menjadi tumpuan bersama.

3. Kita takut Akan Cinta Kita Sendiri.

Tanyakan pada diri sendiri ini dan jawab dengan jujur ​​- apakah Anda ingin memiliki cinta dalam hidup Anda? Sebagian besar dari kita sering menanyakan mau dibawa sampai kemana hubungan. Saatnya How to Stop Worrying and Start Living. Percayakah bahwa seringkali kita menghakimi diri kita karena kita terlalu paranoid dengan diri kita sendiri dan masa depan kita sendiri?

Percayalah, bahkan ketika kamu kecewa dengan percintaan di dunia pelangi. Mereka yang heteropun juga memiliki persoalan yang sama dengan kita. Mangkanya banyak meme yang mengeluhkan tentang kejombloan atau masalah tikung menikung. Iyah kan?

Dalam Buku La Tahzan : Janganlah Bersedih, ada kalimat yang mungkin bisa kita pikirkan bersama "Jangan pernah mendahului sesuatu yang belum terjadi! Apakah Anda mau mengeluarkan kandungan sebelum waktunya dilahirkan, atau memetik buah-buahan sebelum masak? Hari esok adalah sesuatu yang belum nyata dan dapat diraba, belum berwujud, dan tidak memiliki rasa dan warna. Jika demikian, mengapa kita harus menyibukkan diri dengan hari esok, mencemaskan kesialan-kesialan yang mungkin akan terjadi padanya, memikirkan kejadian-kejadian yang akan menimpanya, dan meramalkan bencana-bencana yang bakal ada di dalamnya? Bukankah kita juga tidak tahu apakah kita akan bertemu dengannya atau tidak, dan apakah hari esok kita itu akan berwujud kesenangan atau kesedihan?"

Kamu tidak akan pernah menjumpai seorang ayah, ibu, kawan, sahabat, tempat tinggal, atau pekerjaan yang padanya tidak terdapat sesuatu masalah. Bahkan, kadangkala justru pada setiap hal itu terdapat sesuatu yang buruk dan tidak kamu sukai. Maka dari itu, padamkanlah jalanilah hidup ini sesuai dengan kenyataan yang ada. Jangan larut dalam khayalan. Dan, jangan pernah menerawang ke alam imajinasi.



4. Kita tidak Mencintai Diri Sendiri.

Ini yang kadang paling sulit. Kita seringkali menyalahkan diri kita sendiri atas apa yang kita lakukan. Penerimaan diri bahwa kita berbeda (Baca : Gay) memang bukan hal mudah ditengah masyarakat yang masih memandang buruk diri kita bahkan memberi label-label yang membuat kita sangat tidak nyaman tetapi itu bukanlah alasan untuk tidak mencintai diri kita sendiri. Yakinlah, bahwa kamu memiliki takdir hidup yang unik, sama uniknya dengan orang lain.

Hadapilah kehidupan ini apa adanya, kendalikan dirimu dan mulailah berkaca dan merenungi diri sendiri lalu nikmatilah. Bagaimanapun juga, kita tidak akan bisa memuaskan semua orang lalu orang menerima secara tulus apa yang kita lakukan. Berhentilah untuk memaksakan kesempurnaan hidup karena memang tidak ada yang sempurna di dunia.

Kami paham bahwa dua hal terakhir bukan hal yang mudah, tentunya dengan segala tekanan yang mengelilingi kita tetapi mungkin sekali lagi harus kami sampaikan bahwa pada hakikatnya. Apapun keputusan kita, sebenarnya kita sedang berjuang untuk kebahagiaan kita sendiri. Manusia itu sangat dinamis, kadang di atas dan kadang kita berada posisi yang sangat sulit dalam hidup kita tetapi itulah yang akan menjadikan kita lebih dewasa dalam menghadapi hidup dan kita menciptakan dunia yang bahagia kita sendiri.

Semoga pembahasan ini bermanfaat, jika ada yang ingin sharing lebih jauh bisa melalui email sobatsemarang@gmail.com.

0 comments :

More on this category »